30 C
Semarang
, 24 October 2021
spot_img

Koperasi Puspita Bahari, Bunga Laut yang Optimalkan Potensi Laut

Demak, Jatengnews.id – Koperasi Puspita Bahari dengan Badan Hukum Nomor 245/BH/XIV/2018 yang disahkan pada tanggal 19 Juli 2012 merupakan salah satu koperasi serba usaha yang pusat sekretariatnya berlokasi di Desa Morodemak, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak.

Salah satu perintis berdirinya Koperasi Puspita Bahari yang pernah menjabat sebagai ketua selama dua periode, Masnu’ah menuturkan nama “Puspita Bahari” memiliki makna kembang laut.

“Kami meyakini laut itu merupakan ibu dari masyarakat pesisir nelayan. Yang memberi kehidupan, yang memberi kebahagiaan, dan  ketika memberi hasil yang banyak itu akan berpengaruh untuk banyak masyarakat pesisir termasuk keluarga-keluarga nelayan,” katanya.

Selain itu, frasa bunga laut sendiri dimaksudkan memiliki makna walaupun diterpa angin dan ombak besar, mereka tetap berdiri tegap dan bertahan hidup serta berdaya.

Ada empat sentra yang menjadi hasil produksi Koperasi Puspita Bahari yaitu olahan ikan kering atau sering disebut gereh yang berlokasi di Pelabuhan Morodemak; olahan aneka hasil laut seperti kerupuk ikan, kerupuk cumi, kerupuk udang, abon, dan dendeng yang tersebar di tiga desa; produksi terasi yang juga tersebar di tiga desa yaitu Dukuh Tambaklayur, Desa Morodemak; Kampung Bolang, Margolinduk; dan Dukuh Tambakmalang, Purworejo; serta yang terakhir adalah sentra perikanan tangkap.

Produk dari Koperasi Puspita Bahari (Foto: Devan)

Masnu’ah menceritakan bahwa awal mula berdirinya Koperasi Puspita Bahari berasal dari keadaan perempuan nelayan yang termarjinalkan. Tangkapan hasil laut yang tidak menentu membuat mereka sulit menabung, banyak anak yang putus sekolah, dan kondisi ekonomi yang tidak stabil seringkali mengakibatkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.

“Jadi Koperasi Puspita Bahari bergerak di dalam pemberdayaan ekonomi khususnya perempuan nelayan, yang memproduksi, mengolah, serta memasarkan. Termasuk juga menyediakan simpan pinjam dari hasil simpanan wajib anggota perempuan nelayan, yang manfaatnya kembali ke perempuan nelayan,” jelasnya.

Berawal dari kelompok perempuan nelayan yang terbentuk pada tahun 2005 dan memulai kegiatan pada awal 2006, aktivitas Puspita Bahari tidaklah melewati jalanan yang mulus. Banyak momen jatuh bangun yang harus menguras mental dan energi anggota Koperasi Puspita Bahari.

“Salah satunya adalah tidak banyak keluarga nelayan yang mendukung perempuan nelayan untuk berorganisasi, untuk melakukan kegiatan-kegiatan di luar rumah. Gerakan kelompok perempuan nelayan Puspita Bahari yang melalui koperasi itu awalnya dianggap tidak bisa memberi manfaat,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Hendi Pastikan PTM Dimulai Senin Depan 30 Agustus 2021

Pada masa awal berdirinya Koperasi Puspita Bahari yang beranggotakan 30 orang ini, mereka dimintai iuran swadaya sebesar Rp1000 setiap pertemuan. Setelah terkumpul sekitar Rp1 juta, kemudian dijalankan koperasi beras yang disalurkan ke anggotanya.

“Metodenya anggota mengambil beras, kemudian setelah habis, mereka membayar ke koperasi. Pada saat itu kami mengambil keuntungan hanya Rp200 saja,” katanya.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca, Jumat 8 Oktober Hujan Sedang di Pegunungan Tengah

Sayangnya, di pertengahan tahun 2007 terjadi kredit macet yang menghambat berjalannya Koperasi Puspita Bahari.

“Padahal waktu itu jika dinominalkan modal awal Rp1 juta sudah bisa dikembangkan menjadi Rp3 juta,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, dengan kegigihan yang tak pernah luntur pada tahun 2009 akhirnya Koperasi Puspita Bahari bisa bangkit kembali. Setelah mengumpulkan bekal pengetahuan yang cukup, pihaknya mengoptimalkan potensi olahan ikan yang melimpah ruah di wilayah pesisir.

“Pertama kali kami membuat olahan hasil laut yaitu kerupuk ikan. Karena pada dasarnya anggota Puspita Bahari itu sudah bisa membuat kerupuk ikan, namun mereka tidak menyadari bahwa kerupuk ikan itu bisa dijual dan bisa menambah ekonomi keluarga nelayan,” tuturnya.

Selama ini, keluarga nelayan membuat kerupuk ikan hanya sebagai camilan saja. Sampai pada akhirnya, Koperasi Puspita Bahari yang sempat terpuruk kembali bangkit. Bahkan, dalam satu minggu produksi bisa mencapai setengah sampai dengan satu kuintal.

Saat ini sendiri karena anggota Koperasi Puspita Bahari yang terlihat lebih aktif di Dukuh Tambakpolo, Desa Purworejo, sekretariat dipindahkan ke sana. Hingga saat ini, anggota yang awalnya hanya 30 orang berkembang menjadi 148 orang di tiga desa.

Koordinator Divisi Koperasi, Darwati mengaku sangat terbantu dengan kehadiran Koperasi Puspita Bahari di Tambakpolo sekitar tiga tahun yang lalu. Pekerjaan sebagai perempuan nelayan yang membutuhkan banyak peralatan bisa diringankan dengan adanya peminjaman uang untuk anggotanya.

“Tapi memang kalau di sini untuk peminjaman harus bergilir untuk masing-masing anggotanya,” tandasnya. (Adv/Devan-02)

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan