34 C
Semarang
, 19 September 2021
spot_img

Kuliner Soto Sawah di Karangboyo Demak, Salah Satu Potensi Desa Sejak Belasan Tahun

Demak, Jatengnews.id – Kuliner Soto Sawah Karangboyo Pak Pono sudah berdiri sejak sekitar 18 tahun yang lalu. Kuliner soto di Kota Wali ini terkenal justeru pemberian nama dari pelanggan yakni terletak di Dukuh Karangboyo, Desa Candisari, Kecamatan Mranggen, Demak.

Pemilik Soto Sawah Karangboyo, Pono mengatakan, dirinya mendirikan bisnis kuliner soto tersebut setelah keluar dari lama bekerja di Soto Bangkong Semarang 2002 yang lalu. Kini usaha Soto Sawah Karangboyonya minimal sehari dua dandang habis disantap pembeli.

“Minimal 2 dandang, 10 ekor ayam habis sehari. Semula namanya hanya warung Soto Pak Pono, ya pelanggan sendiri yang menamainya Soto Sawah hingga saat ini,” terang Pono, Selasa (13/7/2021).

Pono mengatakan, bisnis sotonya tersebut kini dikelola oleh 3 orang dari anak dan kerabatnya. Pono mengatakan soto sawahnya tersebut buka mulai pukul 07.00 – 17.00 WIB dengan pelanggan yang tak ia tahu asalnya darimana saja.

Kuliner Soto Sawah Karangboyo Pak Pono. (Foto: dok)

Pono menjelaskan, banyaknya pelanggan minat penikmat sotonya, dirinya berencana untuk membuat cabang lainnya. Ia mengatakan akan mendirikan cabang soto di tanah kaplingnya.

“(Pelanggannya) dari mana-mana. Tidak ada yang dari orang dekat. Harga satu porsinya Rp 8 ribu,” ujar Pono.

Sementara salah satu pelanggan, Rosadi, datang bersama empat orang. Dia mengaku sudah lima kali datang ke Soto Sawah Karangboyo.

Rosadi seorang guru SD di salah satu wilayah Tegalarum, Kecamatan Mranggen tersebut datang bersama guru lainnya di jam istirahat, yakni sekitar pukul 12.00 WIB. Dirinya mengaku rasa khas soto sawah cocok dengan selera lidahnya.

BACA JUGA:  Presiden Jokowi Lepas Kontingen Indonesia ke Olimpiade Tokyo

“Menurut saya rasanya sesuai dengan selera, lidah. Harganya terjangkau. Ini tadi dari Desa Karangsono terus mampir sebentar,” ujar Rosadi asal Desa Waru-Mranggen tersebut.

Sementara Ketua Bumdes Desa Candisari, M Soleh Kasun mengatakan, pembeli seharinya di warung soto sawah bisa antara 500-600 orang. Dirinya menjelaskan, pembeli merasa bangga bisa makan di soto sawah lantaran memiliki value tersendiri.

“Itu difoto (sotonya), nanti untuk dikirimkan temannya atau diupload ke medsosnya,” ujar Kasun menggambarkan salah satu pembeli.

Kasun menjelaskan, selain kuliner soto, potensi desanya tersebut memiliki banyak keanekaragaman, baik budaya, edukasi, dan alam. Yakni, Sumur Panguripan, Pohon Siwalan, kampung inggris, dan lainnya.

BACA JUGA:  Indisipliner, PSIS Pulangkan Bruno Silva ke Semarang dan Dijatuhi Hukuman

“Kita ditetapkan sebagai desa wisata tahun 2020 ini. Targetnya 2022 sudah bisa dibuka untuk wisatawan,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan, pohon siwalan tersebut langka lantaran hanya bisa ditanam di Desa Candisari. Dirinya menyebut hal tersebut tidak terlepas dari peran tokoh agama yang menyebarkan agama Islam di area tersebut.

Selain itu, dirinya juga menyebut sumur panguripan yang dulunya menjadi sumber untuk minum masyarakat setempat, masih kerap didatangi oleh orang luar daerah. Hal tersebut juga tidak terlepas dari cerita Sunan Kalijaga saat mencari kayu untuk berdirinya saka guru Masjid Agung Demak.

“Kearifan lokal kita juga banyak, ada Festival Gebyur Dawet, apitan, kirab budaya, nyadran, Festival Gogoh Iwak, dan lainnya,” ujarnya.

Kasun berpesan, orang luar yang ingin tahu lebih potensi Desa Candisari bisa melihat akun facebook Warta Candisari dan akun youtube Pak De Kasun Mbangun Desa. (Adv/Sai-01).

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan