28 C
Semarang
, 15 June 2021
spot_img

Minim yang Bisa Memasak, Tradisi Makan Kupat Jembut Terancam Hilang

Semarang, Jatengnews.id – Tradisi Syawalan di Kota Semarang berupa makan kupat jembut atau Ketupat Sumpel dikhawatirkan terancam hilang karena belum ada generasi muda yang bisa dan mau membuat kupat jembut.

Hal tersebut diungkapkan oleh Juwarti (72), generasi terakhir sekaligus satu-satunya orang yang bisa membuat ketupat jembut di Pedurungan Tengah.

“Kalau di sini tinggal saya saja yang bisa masak ketupat jembut. Anak dan cucu pada nggak mau belakang membuatnya,” kata Juwarti saat ditemui di rumahnya, Kamis (20/5/2021).

Ia mengaku, sampai saat ini belum ada generasi penerus yang dapat meneruskan keahliannya membuat ketupat jembut. Bahkan anak dan cucunya belum ada yang berminat meneruskan keahlian tersebut.

Juwarti masih ingat betul jika dengan pesan orang tua terdahulu yang berpesan untuk tak meninggalkan tradisi tersebut. Menurutnya, ketupat jembut tak hanya makanan namun juga tradisi yang mempunyai makna mendalam.

“Artinya itu perjuangan siap saling memaafkan dan juga saturahmi. Itulah arti yang ada di ketupat jembut dengan harapan warga Pedurungan bisa sehat dan aman semua,” imbuhnya.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca, Senin 3 Mei 2021 Pegunungan Tengah Jateng Hujan

Untuk perayaan tahun ini, dia hanya membuat 80 ketupat jembut. Hal itu disebabkan karena dia sudah tak sanggup untuk memproduksi dengan jumlah yang lebih banyak lagi.

Ketua RW 1 Pedurungan Tengah, Wasihi Darono mengatakan, bahwa tradisi bagi ketupat ini sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Warga sekitar tak banyak yang tau arti dibalik tradisi bagi -bagi ketupat jembut itu.

BACA JUGA:  Kumandangkan Indonesia Raya Serentak, Ganjar Apresiasi Warga

“Jadi ini tradisi sesepuh kita dan tinggal melanjutkan saat syawalan dengan membuat Kupat Jembut atau Ketupat Sumpel,” ucapnya.

Dia menyebut, tradisi itu memang dilakukan orang dewasa dan diperuntukan untuk anak-anak sebagai simbol untuk meneruskan tradisi ke generasi yang lebih muda.

“Tradisi ini memang merupakan sarana menjalin rasa kebersamaan dan saling berbagi kepada sanak saudara dan tetangga sekitar,” imbuhnya.

Ia berharap, masyarakat di wilayahnya tetap merawat tradisi tersebut dalam rangka untuk menjalin silaturahim dan rasa kebersamaan dalam masyarakat. (Majid-02)

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan