34 C
Semarang
, 19 September 2021
spot_img

Pandemi Gerus Bisnis Hiburan, Huda Cari Peluang Lewat Berdagang

Demak, Jatengnews.id – Di salah satu pinggiran Jalan Raya Demak menuju Kudus, sebuah peti kemas berwarna biru yang sudah berkarat teronggok begitu saja. Berlindung di bawah rindangnya pohon, nampak berjejer aneka dagangan berupa sandal, masker, celana, hingga rak produksi kerajinan tangan.

Nama lengkapnya Huda Wahyu Saputra, pemuda yang saat ini berumur 18 tahun. Ia berinisiatif menolong laju ekonomi keluarganya yang mandek digerus pandemi.

“Usaha ayah saya waktu sebelum pandemi itu punya pasar malam. Setelah pandemi mau tidak mau, tidak bisa beroperasi dan akhirnya tutup,” ujarnya.

Pandemi yang memaksa kegiatan manusia lebih terbatas, membuat bisnis pasar malam keluarga Huda tercekik. Semua peralatan pasar malam milik ayahnya yang berlokasi di Depok, harus berhenti beroperasi dan dirongsokkan. Pasalnya, meski kegiatan operasionalnya terhenti, biaya sewa tanah masih membebani keluarganya.

“Jadi ya sudahlah, begitu adanya. Memang pandemi merusak semuanya. Kerugian untuk ayah saya juga lumayan banyak lah (nominal) angkanya,” keluhnya.

Tak ingin berpasrah diri akan kondisi yang terjadi, Huda dan ayahnya dibantu salah satu karyawannya saat dulu di pasar malam, Hendrawan (33) memutar otak dan memilih untuk berdagang. Sejak periode awal virus Covid-19 masuk ke Indonesia, keluarga Huda memutuskan banting setir ke sektor niaga ini.

Salah satu dagangan yang menarik perhatian ialah rak yang terlihat merupakan buatan tangan. Hal ini terlihat dari bahan bakunya yang memanfaatkan paralon dan keranjang bekas buah. Huda menuturkan memang salah satu tujuan ide rak buatan tangan ini untuk memanfaatkan barang yang ada.

BACA JUGA:  Hasil Kualifikasi Piala Dunia 2022: Inggris Pesta Gol, Italia Seri

“Sepertinya di Demak sendiri belum ada yang berjualan produk seperti ini. Bahan ini juga mudah di dapat, di pasar juga ada,” ucapnya.

Lelaki asal Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak ini menyampaikan untuk memboyong satu buah rak, ia mematok harga dari yang tipe hanya 3 susun hingga 8 tingkatan dengan ragam harga dari Rp 40 ribu hingga Rp100 ribu.

Berbagai tipe dan corak masker yang dipajang, dihargai dari Rp5 ribu hingga Rp10ribu. Sandal yang dijualpun memiliki berbagai harga dan ukuran.

BACA JUGA:  Hasil Kualifikasi Piala Dunia 2022: Inggris Pesta Gol, Italia Seri

“Pandemi ini kan sudah satu tahun lebih ya, saya harap sih cepat selesai saja,” katanya.

Menapaki bidang baru yaitu berniaga, menurutnya bukanlah jalan yang mulus tanpa hambatan. Kondisi pandemi juga memengaruhi baik minat maupun harga barang yang ia jual.

“Masker itu penjualannya menurun, waktu awal memang banyak yang beli. Semakin kesini penjualan bahkan menurun sampai 50 persen. Penjualan sandal juga kurang lebih sama. Untuk penjualan rak juga kadang ada yang beli, kadang tidak ada, tergantung rezeki saja,” pungkasnya.

Tak ada masyarakat Indonesia yang bersiap sedia menghadapi pandemi ini. Sisi ekonomi yang dirasa lumpuh saat pandemi memaksa masyarakat memutar otak. Dari model berjualan yang bergeser dari konvensional menuju digital, hingga dari sisi pendidikan dengan segala pro dan kontra dari masyarakat.

“Yang kita tahu bersama, adanya pandemi memaksa manusia untuk berubah dan harus beradaptasi khususnya demi menjaga diri,” ujarnya. (Devan-01).

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan