32.9 C
Semarang
, 9 May 2021
spot_img

Peringati Hardiknas, Jokowi Minta Pendidikan Harus Tetap Berjalan

Jakarta, Jatengnews.id – Dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2021, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa pendidikan haruslah memerdekakan manusia.

Hal ini ia sampaikan saat melakukan podcast bersama Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim yang disiarkan dalam kanal Youtube Sekretariat Presiden, Minggu (02/05/2021) sore.

“Semangat Ki Hajar Dewantara yang kita harus ingat semuanya, bahwa pendidikan itu haruslah memerdekakan manusia. Beliau menyampaikan itu dan kita harus ingat semuanya,” katanya.

Lelaki yang akrab disapa Jokowi tersebut melanjutkan, memerdekakan kehidupan manusia melalui pendidikan merupakan sebuah tujuan bangsa Indonesia.

“Dengan berbekal pendidikan semua orang boleh menjadi apa saja, ini juga penting perlu digaris bawahi. Tapi, harus juga menghormati kemerdekaan orang lain. Saya mau mengingatkan berhubung hari ini adalah Hari Pendidikan Nasional agar sistem pendidikan Indonesia haruslah memerdekakan manusianya dan membangun jiwa dan raga bangsa dan pendidikan harus tetap berjalan,” tegas Presiden.

Dalam peringatan Hardiknas yang masih diliputi pandemi Covid-19, terobosan-terobosan baru sudah seharusnya digunakan dalam proses belajar mengajar.

“Ini kalau kita gunakan cara-cara lama, ya pendidikan tidak bisa jalan di era pandemi ini. Perlu cara-cara baru (seperti) digital, hybrid dan kita harus cepat adaptasi. Adaptif, kreatif, dan ada inovasi-inovasi terus,” tuturnya.

Ia melanjutkan bahwa pandemi yang menyerang hingga 215 negara ini memang mengubah kehidupan secara drastis.

“Tantangannya adalah bagaimana memastikan pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik, terutama untuk yang pendidikan dasar dan guru-guru dituntut untuk kreatif dan inovatif,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kondisi pandemi seharusnya digunakan untuk evaluasi dan koreksi total pendidikan di Indonesia.

“Pandemi jangan menjadi penghalang untuk mencapai kemajuan. Saya sangat berharap cita-cita untuk mencapai SDM unggul itu tidak berhenti. Pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia ini (harus) benar-benar dirasakan oleh rakyat kita dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote,” ujarnya.

BACA JUGA:  Nikmati Sensasi Hangatnya Teh Plus Madu di Lereng Pegunungan Menoreh

Kemendikbudristek dalam kesempatan yang sama menyampaikan salah satu filosofi dari Ki Hajar Dewantara yang cukup terkenal dalam dunia pendidikan, yaitu ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (di tengah memberi bimbingan), tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan).

BACA JUGA:  Hari Pertama Larangan Mudik, Jumlah Pergerakan Transportasi dan Penumpang Terkendali

“Sebenarnya esensi dari ini adalah, jiwa kepemimpinan dari pendidik itu luar biasa pentingnya. Konsep gotong royong yang sudah kita buahkan dalam profil Pelajar Pancasila itu sebenarnya arah merdeka belajar,” ungkapnya.

Filosofi tersebut juga menurutnya bisa dianalogikan untuk sekolah-sekolah yang saat ini ada di Indonesia.

“Sekolah di depan yang sudah lebih maju, sekolah-sekolah penggerak misalnya mereka yang memimpin dan melihat menjadi teladan; sekolah-sekolah di tengah mereka membimbing kelasnya mereka, melakukan transformasi di dalam; dan sekolah-sekolah yang mungkin masih di belakang itu diberikan dorongan, dan mereka harus meminta ke dinas, ke pemerintah untuk bantu mengupgrade saya (sekolah yang masih di belakang),” jelasnya.

“Saya sangat setuju bahwa kemerdekaan berpikir, kemerdekaan berkarya, kemerdekaan bertanya pertanyaan sulit. Itu impian kami untuk di kelas-kelas kita, sehingga anak-anak ini bisa merdeka dalam menjadi apapun, sesuai dengan minat dan bakat mereka,” imbuhnya.

Terkait pendidikan dalam masa pandemi, dirinya mengatakan bahwa perencanaan perubahan yang sebelumnya sudah diperkirakan, menjadi lebih jelas dengan adanya pandemi.

“Kesenjangan digital, akses internet yang tidak merata, akses guru berkualitas yang tidak merata, penganggaran kita yang mungkin tidak memprioritaskan dari daerah 3T, itu ketahuan semuanya,” kata Nadiem.

“Dan ini menjadi koreksi kita dan bahan evaluasi kita untuk kita perbaiki,” timpal Presiden. (Devan)

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan