23.9 C
Semarang
, 8 July 2021
spot_img

Sambil Baca Buku, Sumarni Seorang Pustakawan Sukses Bisnis Keripik Bayam

Semarang, Jatengnews.id – Memanfaatkan waktu agar tetap produktif selalu dilakoni Sumarni (53), warga Kelurahan Karangmalang, Mijen, Kota Semarang.

Dia adalah pengelola Perpustakaan Kelurahan (Pustakawan) yang setiap hari bergulat dengan buku-buku. Namun, di tengah rutinitasnya, ia menyempatkan waktu untuk berbisnis makanan ringan keripik bayam.

Setiap hari dia mengatur waktu 24 jam antara berjaga di Perpustakaan Kelurahan dengan membuat keripik bayam.

Sumarni menjaga perpustakaan mulai pukul 08.00 WIB sampai 11.00 WIB pada hari Senin, Rabu, dan Jumat. Setalah menjaga perpustakaan, ia pulang ke rumah dan membuat keripik bayam untuk dijual.

Cerita awal Sumarni mulai bisnis keripik bayam tidak lepas dari profesinya sebagai seorang pustakawan. Sejak 2015, Sumarni mulai merintis bisnis kripik bayamnya secara otodidak dari buku cara membuat kripik bayam yang ada di perpustakaan.

“Waktu itu saya baca-baca buku di perpus sini, salah satu buku yang saya baca ada cara membuat kripik bayam,” ucapnya saat ditemui Jatengnews.id di rumahnya RT 01 RW 02 Karangmalang, Sabtu (12/6/2021).

Setelah membaca tuntas buku tersebut, Sumarni lantas mempraktekkan membuat keripik bayam. Bahan baku keripik bayam diambil dari tanaman bayam sekitar rumahnya.

“Memang di sekitar sini juga banyak bayam yang tumbuh,” katanya.

Meski begitu, Sumarni sempat mengalami kendala saat kali pertama mencoba membuat keripik bayam. Ia mengatakan, keripik bayamnya mengandung banyak minyak. Namun, dia tetap cari tahu bagaimana cara mengatasi agar kripik buatannya tidak banyak mengandung minyak.

BACA JUGA:  Temui Ganjar, Najelaa Shihab Bahas Peningkatan Guru dan Kualitas Pendidikan

“Dulu saya sempat malu saat ingin menjual keripik buatan saya karena banyak minyaknya. Tapi setelah saya teliti dan pelajari saya bisa mengatasinya,” ucapnya.

Ia menerangkan, supaya keripik bayam tidak terlalu keras dan kriuknya pas, daun bayamnya harus dikeringkan dulu setelah dicuci. Setelah itu baru dimasukkan adonan dan digoreng.

“Hingga akhirnya saya punya alatnya sendiri supaya keripiknya tidak berminyak,” paparnya.

Ia mengatakan, produk keripik bayamnya telah mendapatkan Sertifikat Produksi Pangan – Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) pada 2017.

BACA JUGA:  Temui Ganjar, Najelaa Shihab Bahas Peningkatan Guru dan Kualitas Pendidikan

Untuk harga keripik bayamnya, Sumarni membagi tiga harga berdasarkan kemasannya. Kemasan kripik bayam 100 gr harganya Rp 7.500, kemasan 200 gr harganya Rp 13.000, dan kemasan 1 Kg harganya Rp 55.000.

Dengan berbisnis keripik bayam, Sumarni kini mempunyai penghasilan tambahan sebesar Rp. 750.00 setiap bulan. Dari penghasilan tersebut, ia bisa membantu kebutuhan rumah tangga.

“Meskipun masih sedikit ya hitung-hitung bisa membantu suami,” paparnya.

Sumarni juga telah bergabung di Kelompok Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kota Semarang dan Jawa Tengah untuk mengembangkan bisnisnya.

“Sering dulu sebelum pandemi, ada undangan pertemuan UMKM, tiga sampai empat kali dalam seminggu. Jadi saat pertemuan itu, saya bawa keripik kemudian saya tawarkan. Tapi sekarang ya sudah tidak bisa, karena pandemi,” terangnya.

Selain itu, ia memasarkan produknya melalui media sosial WhatsApp Group dan menawarkan secara manual dari orang ke orang. (Majid-01).

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan