23 C
Semarang
, 7 July 2021
spot_img

Sempat Miliki Beragam Masalah, KPRI Mekar Husada Sukses Terapkan Pinjaman Bagi Hasil Nol Persen

Demak, Jatengnews.id – Berawal dari keinginan menyejahterakan para pegawai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sunan Kalijaga Demak, berdirilah Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Mekar Husada.

KPRI Mekar Husada yang dibangun dan mendapatkan legalitas hukum pada 1996 berkeinginan untuk selalu berkembang seperti bunga yang ‘mekar’. Baik dari sisi pelayanan, managemen, hingga kesejahteraan anggota koperasi.

KPRI Mekar Husada yang saat ini telah sustainable dan memiliki pegawai hingga 30 orang itu, dulunya mengalami berbagai rintangan yang cukup pelik. Hingga di tahun 2016, perbaikan manajemen secara perlahan diperbaiki total.

Ketua KPRI Mekar Husada, Pujo Semedi. (Foto: Dok)

Melihat permasalahan yang terjadi pada KPRI mekar Husada, Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha kecil dan Menengah melakukan langkah-langkah yang strategis dalam upaya pembinaan koperasi meliputi pendampingan secara berkesinambungan dalam hal kelembagaan, pembukuan dan administrasi serta usahanya.

Ibu Kiswati, SE selaku Kasi Usaha Simpan Pinjam pada Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Demak menuturkan pada tahun 2017 kami melakukan pendampingan dan memberikan arahan untuk audit eksternal dalam penyelesaian permasalahan koperasi. Selain itu, dalam penyusunan laporan keuangan KPRI mekar husada sudah menggunakan sistem aplikasi.

Ketua KPRI Mekar Husada, Pujo Semedi menuturkan, koperasi yang memiliki tiga lini usaha yakni simpan pinjam, toko swalayan, dan parkir tersebut, dulunya sering mengalami kerugian. Hingga dilakukan perbaikan dengan mendatangkan tim ahli untuk memperbaiki semua permasalahan yang ada.

“Dulunya manajemen masih belum terorganisir dengan baik. Itu toko selalu rugi dan laporan nya kurang baik, pengurus pun kewalahan dan akhirnya kami tata di tahun 2016 hingga 2017 dengan menggunakan jasa akuntan. Setelah terintegrasi sekarang kita cukup pegangan data karena semua perputaran uang langsung masuk rekening,” ujarnya saat ditemui di kantor KPRI Mekar Husada.

“Untuk gaji karyawan koperasi yang cukup banyak itu, diambil dari dana operasional toko dan parkir. Jadi sekarang berjalan dengan baik dan telah terintegrasi sangat bagus,” tambah Pujo.

Selain itu, kata Pujo, sebelum tempat parkir yang dikelola koperasi Mekar Husada tertata, juga terjadi banyak masalah kehilangan. Seperti kehilangan helem dan motor. Di toko swalayan pun sama juga, ada yang ngambil barang-barang dagang swalayan. Akhirnya berbenah dan menggunakan CCTV agar aman dan terkendali.

“Koperasi pernah mau mati, dulunya juga bermitra dengan bank dan hutang hingga rugi. Akhirnya ditutupi dan sekarang berjalan mandiri,” jelasnya.

Sedangkan kendala di unit simpan pinjam pada saat itu yakni kurangnya kesadaran anggota untuk membayar tanggungannya. Dimana sebelum adanya pemotongan gaji, anggota koperasi Mekar Husada lumayan banyak yang telat mengangsur pinjaman.

“Sistem pembayaran pinjaman pernah melakukan bayar sendiri tanpa potongan gaji dan menggunakan bagi hasil, banyak yang tidak bayar yang harusnya 2 tahun bisa jadi 3 tahun lebih. Setelah itu kita sepakati tanpa bagi hasil kalo gajinya dipotong,” terangnya.

“Usaha Simpan pinjam KPRI Mekar Husada, pengurus kekeh tidak ingin ada bagi hasil walaupun dari anggota masih ada toleransi tetap ada bagi hasil akan tetapi kecil. Namun dari pengurus ingin melakukan kegiatan simpan pinjam itu tanpa bagi hasil. Terus kita rapatkan, ada yang pro dan kontra, terus voting banyak yang setuju tanpa bagi hasil, itu perjuang yang sangat besar,” lanjut Pujo penuh semangat bercerita menahkodai KPRI Mekar Husada.

Unit usaha swalayan KPRI Mekar Husada. (Foto: dok)

Hingga akhirnya berjalan lancar meski tanpa bagi hasil, dan ketika awal 2018 diberlakukannya aturan tersebut, pas akhir tahun pun Sisa Hasil Usaha (SHU) masih tetap besar. Menurut Pujo, hal tersebut terjadi karena koperasi Mekar Husada memiliki banyak kegiatan yang mana yang paling utama adalah toko dan parkir.

BACA JUGA:  Kredit Konsolidasi Bank Mandiri Tumbuh 9,10 Persen YoY

“Alhamdulillah mulai berjalan tanpa bagi hasil dan pas tutup buku akhir tahun 2018 nyatanya masih ngasih SHU besar. Walaupun dari simpan pinjam tidak ada bunga tapi kita memiliki kegiatan lain yang bisa untuk back up. Kemarin simpan pinjam dibatesi 10 juta kemudian 20 juta tanpa bagi hasil. Setiap hari ada yang melakukan peminjaman,” paparnya.

BACA JUGA:  Dirikan Pos Penyekatan, Polresta Solo Perketat Kendaraan Luar Kota

Dari perjalanan yang penuh lika-liku hingga berhasil seperti sekarang ini. KPRI Mekar Husada pun berhasil menyabet juara koperasi terbaik tingkat Kabupaten Demak dan sempat juga mengikuti ajang koperasi terbaik tingkat nasional. Keberhasilan tersebut tak lantas menjadikan jumawa juga, KPRI Mekar Husada hingga sekarang masih melakukan aksi-aksi sosial untuk masyarakat.

Dalam pengembangan usaha ritel (pertokaan) koperasi, Dinas Perdagangan, Koperasi, usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Demak melaksanakan kunjungan lapangan di PT. Thosima Gemilang Kabupaten Magelang.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan bagi pengelola koperasi ritel di Kabupaten Demak sehingga pengembangan usaha pertokaan dapat berkembang” tutur Dra. Nur Fadlillah selaku Kasi Kelembagaan Koperasi.

Dengan dua toko yang berdiri kokoh di lingkungan RSUD Sunan Kalijaga Demak, KPRI Mekar Husada juga turut membantu berdayakan UMKM yang ada di Kabupaten Demak. Dimana UMKM diminta untuk mengisi rak-rak toko dengan produk buatan lokal.

“Kami memiliki dua toko disini dan masih banyak produk dari luar. Kami mengharapkan UMKM dari Demak yang bisa mengisi karena perputarannya besar. Misal kalo ada yang mau silahkan bisa mengajukan surat ke kami nanti kami tinjau,” terangnya.

Lebih lanjut Pujo mengungkapkan, ditengah wabah pandemi Covid-19 yang hingga saat ini masih terjadi. Sangat berdampak pada koperasi yang dikelola. Pasalnya koperasi yang berada di lingkungan kesehatan harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

“Di tahun 2020 keser-keser (guling-guling), dan awal 2021 juga sama. Income-nya tidak sampai 30 persen, kalo untuk gaji karyawan aja repot, tapi ini udah mulai naik. Kalo dibandingkan dengan sebelum Covid-19 jauh sekali,” ungkapnya.

“Perbedaan dari pendapatan karena di RS kita tidak ada jam kunjung jadi otomatis kita gak ada pendapatan selama Covid-19. Sekarang sudah ada kunjungan tapi dibatasi itu juga masih cukup susah. Sekarang naik menjadi 40 persen, semoga aja pandemi Covid-19 segera berakhir agar semua kegiatan bisa berjalan normal,” harapnya.

Sementara itu anggota koperasi Mekar Husada, Aris Purwanto menuturkan, setelah bergabung dengan KPRI Mekar Husada Banyak manfaat dan keuntungan yang di dapatkan. Salah satunya yaitu poin dari pembelian barang di koperasi khusus untuk anggota yang akan diglobal dalam satu tahun.

“Alhamdulillah keuntungan nya banyak, pertama bisa minjam tanpa bunga itu pasti, persyaratan nya juga mudah lah kalo untuk karyawan apalagi belum PNS masih honorer. Terus tiap taun masih dapat SHU tapi karena pandemi ini dapetnya sedikit karena benturan tidak ada pengunjung, itu omset menurun pasti,” terangnya.

“Kalo beli dikoperasi ada back poin ke SHU. Nanti diglobal satu tahun sekali. Ditambah kalo ada anak mau sekolah bisa langsung minjam. Persyaratan mudah cepat langsung satu sampai dua hari cair.” pungkasnya. (Adv-Lilisnawati)

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan