30 C
Semarang
, 24 October 2021
spot_img

Wajib Dikunjungi, Wisata Edukasi Peternakan Sapi Tlogoweru Kabupaten Demak

Demak, Jatengnews.id – Meskipun mayoritas warga Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, bekerja di sektor pertanian, namun tidak menjadi penghambat untuk mengembangkan di sektor yang lain.

Saat ini Pemerintah Desa (Pemdes) Tlogoweru sedang mendorong masyarakatnya untuk terjun di sektor peternakan. Sebab hal itu dilakukan untuk mewujudkan Wisata Edukasi Peternakan Tlogoweru.

Kepala Desa Soetedjo mengatakan dalam Wisata Edukasi Peternakan di daerah yang dipimpinnya tersebut, berbagai inovasi telah dilakukan. Sehingga layak menjadi wisata edukasi.

“Kami punya kandang penggemukan sapi, dan itu tidak berbau, meskipun letaknya di dekat pemukiman warga. Itu karena kami menggunakan mikroba yang kami buat sendiri. Memang banyak yang bisa membuat mikroba, tapi kami lebih memilih membuat mikroba di bumi Tlogoweru sendiri, tentunya agar mandiri,” katanya, saat ditemui di rumahnya, Kamis (16/9/2021)

Tidak hanya itu, Tedjo juga memprioritaskan bibit sapi unggul dalam penggemukan sapinya.

“Kalau kita mau pelihara sapi supaya cepat gemuk, hanya empat bulan, itu jenis sapinya pakai yang limosin, kalau agak panjang kita pakai simental, brahman, atau unggul. Jadi kita harus tahu mana bibit yang unggul,” terang Pria berusia 60 tahun tersebut.

Kandang sapi yang dijadikan tempat wisata Edukasi Peternakan di Tlogoweru Guntur Demak. (Foto: dok)

Selain menentukan bibit unggul, menurutnya ada cara selanjutnya agar sapi bisa cepat gemuk. Yaitu dengan menggunakan sistem penggemukan “perut di luar perut”, artinya sebelum pakan diberikan kepada sapi, terlebih dahulu pakan tersebut sudah diolah. Kemudian pakan yang sudah diolah, baru diberikan kepada sapi.

BACA JUGA:  Kisah Bukhori Menjemput Mempelainya Naik Perahu di Tengah Banjir Rob

“Karena sebelum masuk perut sapi, terlebih dahulu sudah kami proses, maka setelah kami beri pakan, beberapa jam sudah akan jadi daging, dan kotorannya sedikit,” tuturnya.

Dengan begitu, ujarnya, tingkat pertumbuhan daging sapi bisa dikontrol. Setiap hari, sapi bisa mengalami peningkatan daging sesuai yang kita tentukan, misal 1,2 Kilogram.

“Kami bisa menghitung, sapi dewasa (hidup) bobot 700 kg, ini akan ketemu daging berapa kilo, jeroan berapa kilo, kepala berapa kilo, kulit, tulang berapa kilo, itu kami tahu semua. Sehingga kami menggunakan rumus itu,” terangnya.

BACA JUGA:  PPKM Darurat, Forkopimda Demak Gelar Patroli

Karena bisa menghitung, akhirnya kebutuhan daging saat Idul Adha bisa juga tercukupi. Sehingga bisa mandiri, dengan hasil dari Peternakan yang dikembangkan di Tlogoweru.

“Misalkan, meskipun saat Idul Adha harga sapi atau daging naik tajam, di Tlogoweru tidak. Karena kami memotong sapi dari Tlogoweru sendiri, untuk mencukupi kebutuhan masyarakat yang membutuhkan daging,” jelasnya.

Ia menyampaikan dengan sistem dan model Peternakan yang dikembangkannya tersebut, para wisatawan akan tertarik datang ke Tlogoweru, untuk belajar seputar penggemukan sapi.

“Para wisatawan dari luar daerah akan datang ke sini, belajar bagaimana cara membuat kandang sapi tidak berbau, cara menentukan bibit sapi unggul, cara memberi pakan, dan bagaimana cara hitungan bisnis agar tidak rugi. Sehingga Desa Tlogoweru, juga akan mempunya wisata edukasi peternakan,” paparnya.(Adv/Sukri-01).

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan