29 C
Semarang
, 18 April 2024
spot_img

Kemeriahan Ngabuburit di Masjid Kauman Semarang, Tradisi Kajian Tafsir Hingga Dung Maghrib

Semarang, JatengNews.id – Ngabuburit atau menunggu adzan maghrib di masjid Kauman Kota Semarang, dengan mengikuti berbagai kegiatan yang sudah ada sejak pulahan tahun lamanya.

Bagi masyarakat Kota Semarang, Masjid Kauman menjadi ikon tersediri pada saat menjelang hingga memasuki masa bulan suci Ramadhan.

Pada satu minggu sebelum Ramadhan, biasanya ada budaya dugderan seperti pasar malam yang nantinya ditutup dengan kegiatan penutup mengumumkan waktu penetapan jadwal puasa.

Memasuki bulan Ramadhan, berbagai kegiatan kajian diselenggarakan dari mulai habis Subuh hingga malam hari-hari.

Baca juga: Asyiknya Ngabuburit Sambil Baca Buku di Perpustakaan Daerah

“Yang paling ramai itu kegiatan ba’da dhuhur Tafsir dan Fadhilah Al Qur’an,” ucap Sekretaris Takmir Masjid Kauman, Muhaimin (59).

Ceritanya, kejian Tafsir dan Fadhilah Al Quran ini, sudah ada sejak tahun 1960 waktu Masjid Kauman masih dipimpin oleh KH Abdullah Umar Al Hafidz hingga sekarang.

“Beliau wafat digantikan murid KH Ahmad Naqib Nur Al Hafidz dan pada tahun 2021 meninggal dan sekarang di ganti murid lain yaitu KH Abdul Hakim Al Hafidz,” imbuhnya.

Pasalnya, rentetan kegiatan yang ada bisa menjadi pengisi waktu untuk menuggu waktu buka puasa.

Seperti pada saat sore hari, terdapat kuliner kauman yang di isi berbagai menu makanan dari mulai yang legendaris hingga kekinian.

Selain itu, ada juga kegiatan budaya lama yang pada tahun ini kembali dihidupkan kembali.

Nama kegiatan tersebut yaitu Dung (pengumuman waktu buka dengan menyalakan bom udara).

“Saya waktu kecil tahun 1970 itu sudah ada, mungkin 1950 an mukau adanya. Dulunya diatas masjid sana ada pelontar balonnya, karena menggunakan bahan peledak pada tahun 1983 an mulai dilarang dan dibangunkan menara sirine oleh Walikota pada masa itu untuk menggantikan budaya dung,” jelasnya saat ditemui Jatengnews.id di Masjid Kauman Kota Semarang.

Karena pihak pengurus ingin tetap menjaga romantisme dan keguyuban masyarakat pada menjelang buka puasa. Di tahun 2024 ini, budaya tersebut kembali di aktifkan dengan mengganti bahan bom udara dengan yang lebih aman.

“Dung itukan menggunakan bahan peledak NT itukan tidak boleh, sekarang ini kita ganti dengan kembang api yang dijual bebas tapi yang agak keras suaranya. Kita nyalakan tiga kembang api setiap magrib tiba,” jelasnya pembaharuan budaya Dung.

Budaya ini, biasanya dilaksanakan di lapangan Alon-Alon Masjid Kauman dimana lokasinya yang cukup luas, terbuka sehingga bisa dinikmati banyak orang.

Terlihat pula, saat ini Jumat (29/3/2024) sore pukul 17:12 Wib terlihat pulahan masyarakat mulai berkumpul menunggu Dung tiba.

Kebanyakan dari mereka yang berkumpul, yakni orang-orang yang sudah berkeluarga dengan buka bersama di tengah-tengah Alon-Alon Masjid Kauman tersebut.

Terlihat tidak semuanya membeli makanan dari Kuliner Kauman, namun ada juga yang persiapan dari mulai bekal menu makanan dari rumah hingga karpet untuk tempat duduk mereka.

Baca juga: Ngabuburit di Jateng Halal Vaganza, Tersedia Bahan Pokok Murah Hingga Baju Lebaran

“Harapannya masyarakat bisa datang menunggu Dung di Alon-Alon, kamudian ada Dung bisa buka bersama dan jamaah di masjid,” harapnya.

Salah Seorang warga Ngaliyan Kota Semarang, Yulina (24) mengaku, sengaja datang kesini untuk menunggu waktu buka puasa sambil berburu takjil di Kuliner Semarang. “Kesini bersama teman-teman,” ucapnya.

Pengunjung lain, Habibi (22)  mengatakan, memang Alon-Alon Masjid Kauman menjadi salah satu tempat favoritnya menunggu buka puasa atau ngabuburit.

“Biasanya ya nyari kuliner, ditambah lagi sekarang ada budaya dung itu jadi bisa menikmati petasan, ramai-ramai gitu,” ujarnya. (Kamal-01)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN