SEMARANG, Jatengnews.id — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat penurunan signifikan luas lahan kritis dalam tiga tahun terakhir. Total lahan kritis di Jawa Tengah berkurang sekitar 75 ribu hektare.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah Widi Hartanto mengatakan, pada periode 2022–2024 luas lahan kritis di Jawa Tengah mencapai 392 ribu hektare. Saat ini, jumlah tersebut menurun menjadi 317.629 hektare.
Baca juga: Pemprov Jateng Salurkan Bantuan Penanganan Banjir Kudus
“Sudah ada penurunan yang cukup signifikan terkait dengan luasan lahan kritis yang ada di Jawa Tengah,” ujar Widi dalam Rapat Koordinasi Kelompok Kerja Percepatan Perhutanan Sosial di Kantor DLHK Jateng, Kota Semarang, Senin (15/12/2025).
Widi menegaskan, pemulihan lahan kritis akan terus didorong melalui program perhutanan sosial sebagai salah satu strategi utama pemerintah daerah.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno menambahkan, konsep perhutanan sosial tidak hanya berdampak pada peningkatan sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan, tetapi juga tetap menjaga fungsi kawasan hutan.
“Konsep perhutanan sosial ini tidak mengabaikan fungsi kawasan hutan,” kata Sumarno.
Menurutnya, pemulihan lahan kritis melalui perhutanan sosial harus disertai pendampingan penuh agar kelestarian hutan tetap terjaga sebagai penyangga ekosistem.
Baca juga: Pemprov Jateng Kebut Perbaikan Jalan Jepara, Warga Apresiasi
Ia menjelaskan skema pemanfaatan perhutanan sosial yang ideal, yakni 50 persen tanaman keras, 30 persen tanaman keras buah-buahan, dan 20 persen tanaman semusim.
“Dengan konsep ini fungsi hutan akan lebih pulih dan sekaligus memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar,” ucapnya.(02)
