SEMARANG, Jatengnews.id – Tingkat hunian hotel di Kota Semarang mengalami penurunan pada momen pergantian tahun 2025 ke 2026. Jika pada tahun-tahun sebelumnya okupansi hotel bisa mencapai 100 persen, kali ini keterisian kamar hanya berada di kisaran 70 persen.
Penurunan tersebut diduga dipicu kebijakan larangan pesta kembang api yang dikeluarkan Polda Jawa Tengah.
Baca juga : Pengusaha Wisata Karanganyar Siapkan Strategi Baru Dampak Efisiensi
Marketing Communication Hotel Ciputra Semarang, Rina Aprilia Hapsari, mengatakan larangan tersebut berdampak langsung pada tingkat hunian kamar. Sejumlah tamu yang sebelumnya telah melakukan pemesanan memilih membatalkan reservasi menjelang malam Tahun Baru.
“Iya, larangan penyelenggaraan pesta kembang api memang berdampak. Kami mencatat ada pembatalan dari tamu yang sebelumnya sudah melakukan reservasi,” kata Rina, Jumat (2/1/2026).
Ia menyebutkan, okupansi Hotel Ciputra Semarang pada malam pergantian tahun hanya mencapai sekitar 70 persen. Angka tersebut turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang selalu penuh.
“Secara keseluruhan ada penurunan sekitar 30 persen, dengan pembatalan reservasi sekitar 20 persen. Selama ini pesta kembang api menjadi salah satu daya tarik utama bagi tamu,” jelasnya.
Hal serupa disampaikan Marketing Communication Hotel Novotel Semarang, Tere. Ia membenarkan adanya penurunan tingkat hunian akibat kebijakan larangan pesta kembang api.
Meski demikian, suasana malam pergantian tahun di kawasan Simpang Lima Semarang tetap semarak. Langit kota masih diwarnai kembang api, namun sebagian besar berasal dari masyarakat yang datang ke lokasi, bukan dari penyelenggaraan acara resmi.
Baca juga: Okupansi Penumpang Relasi KA Blambangan Ekspress Naik 39 Persen
Sebelumnya, Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah menilai larangan pesta kembang api tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah wisatawan di wilayah Jateng.
Kepala Disporapar Jateng, Muhamad Masrofi, mengatakan momentum pergantian tahun kali ini diharapkan menjadi bentuk solidaritas, bukan euforia berlebihan, menyusul bencana yang terjadi di sejumlah daerah.(02)




