
DEMAK, Jatengnews.id – Banjir dengan ketinggian mencapai sekitar 50 sentimeter telah merendam lingkungan SMP Negeri 3 Bonang, Kabupaten Demak, selama sepekan terakhir. Meski demikian, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung karena air belum masuk ke ruang kelas.
Kepala SMP Negeri 3 Bonang, Hery Sarwanto, menjelaskan bahwa genangan air di sekolah terjadi akibat kondisi geografis lingkungan sekitar. Sekolah tersebut diapit dua sungai di bagian depan dan belakang, sementara di sisi kanan dan kiri terdapat area persawahan serta tambak.
Baca juga : Tiga Bulan Terendam Banjir Rob, Warga Bonang Pertanyakan Peran Pemkab Demak
“Air di sawah, tambak, dan kedua sungai itu sudah sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan halaman sekolah. Akibatnya, air tidak bisa dibuang,” kata Hery, saat dikonfirmasi, Selasa (6/1/2026).
Ia menambahkan, pihak sekolah sebenarnya memiliki pompa air, namun upaya penyedotan tidak efektif. “Padahal kita punya pompa air, tetapi kalau dipompa akan kembali lagi, karena di luar lebih tinggi dibandingkan dengan lingkungan sekolah,” ujarnya.
Menurut Hery, banjir juga diperparah oleh aliran sungai yang tidak lancar. Hal ini disebabkan oleh banyaknya enceng gondok serta bangunan rumah warga yang berdiri di sepanjang alur sungai, khususnya di bagian hilir. “Itu yang membuat air tidak mengalir dengan lancar,” jelasnya.
Saat ini, genangan air di halaman tengah sekolah mencapai sekitar 50 sentimeter, namun belum memasuki teras kelas. Ia bersyukur karena sebelumnya sekolah mendapat bantuan revitalisasi dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan.
“Alhamdulillah, jalur penghubung antarkelas sekarang sudah aman dilalui. Kalau dulu tertutup air, sekarang sudah teratasi. Bahkan di depan musala juga sudah ditinggikan,” ungkapnya.
Meski dalam kondisi banjir, semangat belajar siswa dan dedikasi para guru serta karyawan tidak surut. “Insya Allah kami saling bahu-membahu untuk terus berkarya dan membimbing anak-anak calon pemimpin bangsa,” tutur Hery.
Pihak sekolah memutuskan tidak meliburkan siswa karena ruang kelas masih aman. Namun, pelaksanaan upacara tidak bisa dilakukan di lapangan tengah yang terendam banjir.
“Terpaksa upacara dilakukan di halaman depan dengan kondisi berhimpit-himpitan,” katanya.
Ke depan, Hery berharap ada penanganan jangka panjang, terutama peninggian ruang kelas sebelum halaman sekolah ditinggikan. Selain itu, ia juga meminta perhatian pemerintah untuk menata alur sungai.
Baca juga : Jalan Rusak Parah, Warga Bonang Demak Desak Segera Lakukan Perbaikan
“Harapan kami, sungai bisa ditata, enceng gondok dibersihkan, dan rumah-rumah di bantaran sungai ditertibkan agar air dapat mengalir dengan lancar,” pungkasnya. (03)