
SEMARANG, Jatengnews.id — Pemerintah Kota Semarang menutup tahun 2025 dengan capaian signifikan di sektor kesehatan. Dua indikator utama pembangunan manusia, yakni pengendalian stunting dan cakupan jaminan kesehatan, berhasil dijaga pada level optimal.
Data Dinas Kesehatan Kota Semarang per cut-off Desember 2025 mencatat prevalensi stunting berada di angka 4,27 persen atau setara 2.593 balita. Capaian ini menegaskan efektivitas kebijakan kesehatan daerah, khususnya pada penguatan layanan ibu dan anak, pemantauan tumbuh kembang balita, serta edukasi gizi berbasis keluarga.
Baca juga : IPM Semarang Tembus 85,80, Program Pembangunan Dinilai Tepat Sasaran
Pemkot Semarang tidak hanya berfokus pada penanganan kasus, tetapi juga menekankan strategi pencegahan sejak dini. Intervensi preventif dilakukan secara terintegrasi melalui layanan kesehatan dasar, pemenuhan gizi, serta penguatan peran keluarga dan lingkungan untuk mencegah anak masuk kategori stunting.
Di sisi lain, Pemkot Semarang juga mencatatkan capaian penuh dalam perlindungan kesehatan masyarakat. Hingga akhir 2025, cakupan Universal Health Coverage (UHC) Kota Semarang telah mencapai 100 persen, memastikan seluruh penduduk terlindungi dalam sistem jaminan kesehatan nasional.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menegaskan, sektor kesehatan menjadi prioritas utama dalam pembangunan kota. Menurutnya, pengendalian stunting dan tercapainya UHC 100 persen merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas hidup masyarakat.
“Pembangunan kesehatan adalah fondasi utama. Keberhasilan menekan stunting dan menjamin akses layanan kesehatan bagi seluruh warga menunjukkan kebijakan kami benar-benar diarahkan untuk kebutuhan nyata masyarakat, terutama sejak usia dini,” ujar Agustina.
Ia menambahkan, Pemkot Semarang berkomitmen memastikan kebijakan kesehatan tidak berhenti pada capaian statistik, melainkan dirasakan langsung oleh warga. Penguatan layanan ibu dan anak, pemenuhan gizi, serta jaminan kesehatan inklusif terus dijalankan secara berkelanjutan.
“Kami memastikan layanan kesehatan, pencegahan, dan perlindungan berjalan seiring. Tujuannya agar seluruh warga Kota Semarang tumbuh sehat dan memiliki produktivitas yang lebih baik,” tegasnya.
Baca juga : Program UHC Pemkot Semarang Biayai 10 Ribu Warga Tak Mampu
Capaian pengendalian stunting dan UHC 100 persen ini sejalan dengan arah kebijakan pembangunan kesehatan Kota Semarang yang menitikberatkan pada pencegahan, pemerataan layanan, dan perlindungan sosial. Dengan fondasi kesehatan yang kuat, Pemkot optimistis kualitas sumber daya manusia Kota Semarang akan terus meningkat secara berkelanjutan. (03)