Beranda Daerah Mahasiswa KKN UIN Walisongo Kunjungi UMKM Jamur Tiram di Desa Kepuh Batang

Mahasiswa KKN UIN Walisongo Kunjungi UMKM Jamur Tiram di Desa Kepuh Batang

Media tanam jamur dibuat dari campuran serbuk kayu, bekatul, kapur, dan air yang dibungkus plastik, kemudian dikukus selama 24 jam.

KKN UIN walisongo kunjungi UMKMjamur
Mahasiswa KKN MIT-21 UIN Walisongo Semarang Posko 6 berfoto bersama pengelola UMKM jamur tiram saat kunjungan lapangan di Dukuh Kemiri, Desa Kepuh, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Rabu (21/1/2026) (Foto: Dok KKN).

Batang, JatengNews.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Inisiatif Terprogram (KKN MIT) ke-21 UIN Walisongo Semarang Posko 6 melakukan kunjungan ke Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) budidaya jamur tiram di Dukuh Kemiri, Desa Kepuh, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Rabu (21/1/2026).

Kunjungan ini bertujuan untuk mengenal secara langsung proses produksi serta potensi ekonomi lokal yang berkembang di wilayah Desa Kepuh.

Usaha jamur tiram tersebut milik Pak Ahmad, seorang alumni SMK Moga Weleri, yang telah merintis usaha sejak tahun 2008 sebagai kelanjutan dari usaha keluarga.

Saat ini, usaha budidaya jamur tiram tersebut dibantu oleh dua orang karyawan. Pak Ahmad menjelaskan bahwa permintaan pasar jamur tiram tergolong tinggi, mencapai sekitar 100 kilogram atau satu kuintal.

Dalam satu kali panen, produksi jamur dapat mencapai hingga 40 kilogram.

Hasil panen sebagian besar didistribusikan ke wilayah Weleri.

Pengelola menyediakan dua jenis jamur, yaitu jamur tiram putih dengan harga Rp12.000 per kilogram dan jamur tiram coklat seharga Rp17.000 per kilogram.

Proses panen jamur tiram dapat dilakukan setiap hari dalam satu masa produksi yang berlangsung selama empat hingga lima bulan.

Media tanam jamur dibuat dari campuran serbuk kayu, bekatul, kapur, dan air yang dibungkus plastik, kemudian dikukus selama 24 jam.

Setelah itu, media tanam diberi bibit jamur dan disemprot obat perangsang pertumbuhan sebelum disusun di rak.

“Media tanam mulai menunjukkan pertumbuhan jamur setelah 30 sampai 40 hari,” jelas Pak Ahmad.

Menurutnya, budidaya jamur tiram tumbuh lebih optimal di lingkungan yang dingin dan lembap.

Ia menilai kondisi udara di Desa Kepuh sangat mendukung proses produksi dibandingkan daerah dengan suhu yang lebih panas.

Pada musim kemarau, pengelola melakukan penyiraman rutin untuk menjaga kelembapan ruang budidaya.

Pak Ahmad juga menyampaikan bahwa kegagalan panen kerap terjadi akibat kontaminasi dan serangan hama seperti gurem.

“Setiap produksi tidak mungkin seratus persen berhasil. Pasti ada yang gagal karena kontaminasi dan hama,” ujarnya.

Penanganan dilakukan dengan pemberian obat sebagaimana pertanian pada umumnya.

Sisa media tanam atau afkiran jamur masih memiliki nilai ekonomi.

Pihak lain memanfaatkan sebagian afkiran sebagai bahan campuran pabrik, meskipun pengelola mengaku belum menjalin kerja sama langsung dengan pihak industri.

Untuk kebutuhan bibit, pengelola telah memiliki langganan tetap, di mana satu bibit dapat digunakan hingga 60 afkiran.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN MIT-21 UIN Walisongo Posko 6 memperoleh wawasan langsung mengenai potensi budidaya jamur tiram sebagai usaha ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Mahasiswa KKN berharap, kegiatan ini dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus inspirasi bagi mahasiswa dan masyarakat desa dalam mengembangkan usaha produktif berbasis potensi lokal.

Exit mobile version