25 C
Semarang
, 28 Januari 2026
spot_img

UNDIP Serahkan Teknologi Plasma Ozon dan Pengering Surya ke Pemkab Temanggung

Universitas Diponegoro (UNDIP) serahkan alat plasma ozon dan pengering surya untuk ketahanan pangan di Temanggung.

TEMANGGUNG, Jatengnews.id – Universitas Diponegoro (UNDIP) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyerahkan bantuan teknologi berupa alat plasma ozon dan pengering surya kepada Pemerintah Kabupaten Temanggung.

Penyerahan dilakukan di Balai Desa Campurejo, Kecamatan Tretep, Temanggung, Selasa (21/1), dan dihadiri unsur pemerintah daerah, perwakilan DPRD, serta tokoh masyarakat setempat.

Bantuan teknologi tersebut merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, yang diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kualitas hasil pertanian, serta mendorong kesejahteraan petani di wilayah pedesaan.

Ketua LPPM UNDIP, Prof. Dr. Ing. Suherman, S.T., M.T., mewakili Rektor UNDIP, menyampaikan bahwa UNDIP secara konsisten mengembangkan riset terapan yang mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat. Program di Temanggung ini menjadi bagian dari inisiatif pengentasan kemiskinan dan ketahanan pangan yang dicanangkan Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., dan diimplementasikan melalui LPPM.

“Teknologi yang diserahkan bukan sekadar hasil riset laboratorium, tetapi telah dirancang agar bisa langsung digunakan dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Penelitian LPPM UNDIP, Prof. Firmansyah, S.E., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa alat plasma ozon merupakan inovasi Prof. Dr. Muhammad Nur, DEA, dosen Fakultas Sains dan Matematika UNDIP. Teknologi ini berfungsi memperpanjang umur simpan komoditas pertanian seperti cabai dan aneka sayuran.

“Cabai yang biasanya hanya bertahan tiga hari, dengan plasma ozon dapat bertahan lebih dari satu minggu. Jika dikombinasikan dengan penyimpanan dingin, daya simpannya bisa mencapai dua hingga tiga bulan,” jelasnya.

Menurutnya, perpanjangan masa simpan ini memberi ruang bagi petani untuk tidak terburu-buru menjual hasil panen saat harga rendah, sehingga pendapatan lebih stabil dan fluktuasi harga dapat ditekan, sekaligus membantu pengendalian inflasi daerah.

Selain itu, UNDIP juga menyerahkan alat pengering surya karya Prof. Suherman yang mampu mempercepat proses pengeringan komoditas pertanian seperti kopi, jagung, dan gabah. Teknologi ini dinilai sangat relevan, terutama di musim hujan, karena dapat meningkatkan efisiensi pascapanen dan kualitas produk.

Bupati Temanggung, Agus Setyawan, mengapresiasi kontribusi UNDIP dalam mendukung pemberdayaan masyarakat desa. Ia menilai bantuan teknologi tersebut tepat sasaran mengingat Desa Campurejo memiliki potensi pertanian yang beragam.

“Teknologi ini sangat mendukung pengembangan ekonomi desa berbasis potensi lokal dan diharapkan mampu meningkatkan nilai jual hasil pertanian,” ujarnya.

Di sisi lain, Prof. Dr. Muhammad Nur, DEA, menambahkan bahwa keunggulan plasma ozon tidak hanya pada perpanjangan masa simpan, tetapi juga kemampuannya mengurangi pembusukan serta residu pestisida. Dengan proses pencucian ozon, produk pertanian konvensional dapat memiliki kualitas setara produk organik, sehingga lebih mudah diterima pasar modern tanpa mengurangi kandungan gizinya.

Jika dikombinasikan dengan cold storage, teknologi ini dinilai efektif menekan kehilangan hasil pascapanen (food loss) yang selama ini menjadi tantangan besar bagi petani.

Adapun pengering surya yang diserahkan menggunakan sistem hibrida tenaga matahari dan inframerah. Teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan Temanggung, khususnya kopi, melalui proses pengeringan yang lebih cepat dan merata.

Pada tahap awal, baru satu unit alat yang diserahkan, sementara unit lainnya masih dalam proses penyelesaian.

Keseluruhan teknologi ini menjadi bagian dari strategi UNDIP dalam mendukung pengentasan kemiskinan dan penguatan ketahanan pangan nasional, dengan pendekatan peningkatan produktivitas dan nilai tambah tanpa perlu memperluas lahan pertanian, khususnya bagi petani kecil di wilayah pedesaan. (03)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN