
SEMARANG, Jatengnews.id – Minggu pagi (1/2/2026) di sudut RW 17 Kelurahan Srondol Wetan, Banyumanik, suasana terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan sekadar rutinitas akhir pekan, warga setempat sedang merayakan “pesta kecil” demokrasi.
Mereka bahu-membahu menentukan siapa sosok yang akan menakhodai lingkungan mereka untuk empat tahun ke depan.
Tiga nama muncul sebagai tumpuan harapan: Suyoto Abdul Ghoni, Udin Musyafik, dan Bahruddin Noor. Namun, yang menarik bukan hanya soal siapa kandidatnya, melainkan bagaimana warga menjaga semangat “guyub” di tengah kompetisi.
Menjemput Suara, Menjalin Silaturahmi
Panitia pemilihan memilih cara yang cukup personal dalam memungut suara. Bukannya menunggu warga datang ke bilik, para Ketua RT justru melangkah dari rumah ke rumah. Mereka mengantarkan kertas suara langsung ke tangan warga, memastikan setiap orang—mulai dari anak muda hingga lansia—punya kesempatan yang sama untuk memilih.
“Kami ingin semua warga merasa memiliki suara dalam menentukan masa depan RW ini,” ujar Hery Adi, salah satu panitia pemilihan. Sambil mengawasi proses, ia tersenyum melihat bagaimana warga antusias menyambut petugas, mencentang pilihan mereka, lalu kembali bercengkerama.
Bagi Hery dan panitia lainnya, tujuan utama pemilihan ini sederhana namun mendalam: mencari pemimpin yang mampu menempatkan kepentingan bersama di atas segalanya.
Babak Baru di Tangan Suyoto
Saat matahari mulai tinggi, ketegangan kecil menyelimuti proses penghitungan suara. Namun, suasana tetap cair. Satu demi satu kertas suara dibuka, hingga akhirnya angka-angka tersebut membentuk keputusan akhir.
Suyoto Abdul Ghoni memenangkan kepercayaan warga dengan raihan 131 suara. Ia mengungguli dua pesaingnya, Udin Musyafik (115 suara) dan Bahruddin Noor (56 suara). Suyoto kini resmi memegang tongkat estafet kepemimpinan dari Pujo Adi Herlambang, yang telah berpindah tugas menjadi Ketua LPMK Kelurahan Srondol Wetan.
“Terima kasih atas amanahnya. Semoga kami dapat melaksanakan tugas ini dengan baik dan benar,” ucap Suyoto dengan nada rendah hati saat dimintai keterangan.
Lebih dari Sekadar Jabatan
Bagi masyarakat RW 17, momen ini lebih dari sekadar urusan administratif pergantian ketua. Ini adalah cara mereka mempererat ikatan tetangga. Dengan terpilihnya kepengurusan baru, ada harapan besar tentang pelayanan yang lebih cepat, komunikasi yang lebih cair, dan lingkungan yang lebih responsif terhadap keluh kesah warganya.
Demokrasi di tingkat RW ini membuktikan bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari langkah kecil di depan pintu rumah sendiri. (01).