
Sragen, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP) merancang dan mendemonstrasikan alat pencacah bonggol jagung dan limbah organik skala rumah tangga di Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Selasa (27/01/2026).
Mahasiswa tersebut, Athallah Nafis Akbar, dari Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik UNDIP, memperkenalkan teknologi tepat guna berupa alat pencacah limbah organik sederhana dan ekonomis yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengolah sampah dapur menjadi bahan baku kompos.
Kegiatan demonstrasi yang berlangsung di halaman Musholla Al-Fallah RT 13 ini dihadiri warga Kebayanan VI yang meliputi RT 13, 14, 15, dan 16.
Program ini merupakan bagian dari KKN UNDIP periode 06 Januari hingga 10 Februari 2026.
Teknologi Tepat Guna untuk Pengelolaan Limbah Organik
Alat pencacah yang dirancang mampu mengolah berbagai jenis limbah organik seperti bonggol jagung, sisa sayuran, buah-buahan, rumput, daun liar, hingga pelepah pisang agar lebih mudah terurai menjadi kompos.
Secara teknis, alat menggunakan ember plastik bekas cat sebagai ruang pencacahan.
Di dalamnya terpasang poros vertikal (shaft) dengan empat mata pisau lengkung yang disusun simetris untuk menghasilkan gaya potong merata dan efisien.
Sistem penggerak memanfaatkan dinamo mesin cuci yang dihubungkan langsung ke poros pemotong melalui sistem kelistrikan sederhana.
Rangka penopang dibuat dari besi hollow dengan tinggi sekitar 40–50 cm guna menjaga kestabilan saat alat beroperasi.
Bagian bawah wadah dilengkapi pintu pengeluaran untuk memudahkan pengambilan hasil cacahan.
“Bahan-bahannya relatif murah dan mudah ditemukan. Dengan alat ini, limbah organik rumah tangga bisa dikelola secara mandiri sehingga membantu mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan bahan baku kompos,” ujar Athallah Nafis Akbar.
Dorong Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Berdasarkan survei awal, sebagian besar warga Desa Ngargotirto belum memiliki sistem pengelolaan limbah organik yang berkelanjutan.
Sisa dapur seperti sayuran, buah, dan daun kering umumnya langsung dibuang, padahal memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali.
Antusiasme warga terlihat selama demonstrasi berlangsung. Peserta aktif mengajukan pertanyaan mengenai cara penggunaan alat, aspek keamanan, hingga proses lanjutan pembuatan kompos ramah lingkungan.
“Dengan proses pencacahan yang baik, bahan organik akan lebih cepat terurai dan kualitas kompos menjadi lebih optimal. Alat seperti ini sangat membantu mempercepat proses pembuatan pupuk kompos,” ujar Suparman, warga yang dikenal berpengalaman dalam pengolahan pupuk kompos.
Melalui inovasi ini, mahasiswa KKN UNDIP berharap masyarakat Desa Ngargotirto semakin sadar akan pentingnya pengelolaan limbah organik secara mandiri.
Selain mendukung kebersihan lingkungan, pemanfaatan sampah organik juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia serta memperkuat ketahanan pangan skala rumah tangga.