DEMAK, Jatengnews.id – Pemerintah Kabupaten Demak resmi menetapkan status darurat tanggap bencana menyusul banjir yang melanda sejumlah wilayah akibat jebolnya tanggul sungai. Penetapan status tersebut dilakukan untuk mempercepat langkah penanganan lintas sektor dan pemulihan wilayah terdampak.
Bupati Demak Eisti’anah menjelaskan, keputusan penetapan darurat diambil setelah dilakukan rapat koordinasi pascakejadian jebolnya tanggul.
“Kemarin hari pertama jebol, kemudian malamnya langsung kami rapatkan. Pak Sekda kami tugaskan untuk menyiapkan SK, dan pagi hari ini sudah kami tetapkan,” ujar Eisti’anah.
Menurutnya, penetapan status darurat ini diharapkan menjadi payung hukum agar seluruh pihak dapat bergerak bersama.
“Harapannya dengan adanya SK tersebut, semua bisa mengerjakan bareng-bareng, tidak berjalan sendiri-sendiri,” tegasnya.
Pemkab Demak bersama unsur Forkopimda serta jajaran OPD terkait telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi banjir. Dalam pemantauan tersebut, Pemkab juga bertemu dan berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Tengah serta Pemerintah Kabupaten Grobogan.
“Kami kemarin bersama Forkopimda dan OPD sudah memantau lokasi, dan alhamdulillah di lapangan juga bertemu dengan Pak Gubernur. Kami lanjutkan koordinasi, termasuk dengan jajaran pemerintah Grobogan,” kata Eisti’anah.
Ia menambahkan, banjir berdampak pada infrastruktur vital, khususnya jalan penghubung antardaerah.
“Prinsipnya memang ada patahan jalan yang menghubungkan Demak, Grobogan, dan ke arah Semarang. Ini langsung kami koordinasikan agar segera ditindaklanjuti,” jelasnya.
“Kami berharap saat Lebaran nanti, proses mudik tetap bisa dilalui oleh masyarakat,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Bupati Eisti’anah menyampaikan, kondisi air di sejumlah titik kini mulai surut, khususnya di wilayah jebolnya tanggul di Kecamatan Kebonagung.
“Alhamdulillah air sudah surut di wilayah jebolan di Kebonagung. Warga yang sempat mengungsi, terutama lansia, sudah mulai kembali,” ujarnya.
Sebagian warga Desa Pilangwetan juga telah pulang ke rumah masing-masing, meski proses pemulihan masih berlangsung.
“Ada yang sudah pulang, ada yang masih proses karena masih bersih-bersih. Tapi insya Allah kondisinya terus membaik,” katanya.
Pemkab Demak memastikan bantuan terus disalurkan meski pengungsi tercatat nihil.
“Setiap hari kami menyiapkan sekitar 2.500 porsi makan. Kalau tiga kali, berarti sekitar 7.500 porsi per hari. Relawan juga membantu membersihkan jalan-jalan yang terdampak,” terang Eisti’anah.
Untuk penanganan teknis, Pemkab fokus di wilayah Mbugel dan Kecamatan Guntur. Di Sungai Cabean, alat berat ditambah guna mempercepat penanganan tanggul jebol.
“Kami instruksikan PU untuk menambah alat berat agar penanganannya bisa lebih cepat,” ujarnya.
Terkait aliran air dari Tlogoweru hingga Temuroso, Eisti’anah memastikan aliran diarahkan ke saluran, bukan ke permukiman warga.
“Alirannya tidak ke wilayah masyarakat, tapi ke salurannya. Ini terus kami jaga,” tegasnya.
Pemkab Demak juga terus berkoordinasi dengan BBWS terkait langkah lanjutan penanganan sungai.
“Untuk Sungai Babon, insya Allah tahun 2026 akan ada normalisasi. Sementara untuk Tuntang dan Cabean, masih fokus pada penguatan tanggul yang jebol,” jelas Eisti’anah.
Ia mengakui masih ada perdebatan teknis terkait alur sungai.
“Apakah alurnya harus dibelokkan atau diluruskan, ini masih kami mintakan pertimbangan dari BBWS dan tim teknis. Kami tidak ingin salah langkah,” ujarnya.
Banjir di Kabupaten Demak dipicu intensitas curah hujan tinggi yang meningkatkan debit air dari hulu ke hilir, sehingga menyebabkan jebolnya tanggul di beberapa titik, antara lain di Sungai Cabean dan wilayah Kebonagung.
Berdasarkan Infografis Bencana Banjir Kabupaten Demak per 19 Februari 2026, dampak banjir tercatat mencapai ±7.382 KK atau 24.936 jiwa, ±6.368 rumah (pendataan), 36 tempat ibadah, 27 fasilitas pendidikan, 6 fasilitas kesehatan, 22 TPU, 858 hektare lahan pertanian, dan 7 hektare tambak ikan. Pengungsi tercatat nihil.
Pemkab Demak menegaskan komitmennya untuk terus mengawal penanganan banjir hingga kondisi benar-benar aman dan aktivitas masyarakat kembali normal. (01).
