SEMARANG, Jatengnews.id – Bulan suci Ramadan, para pedagang di pasar tradisional mulai merasakan lonjakan harga sejumlah bahan pokok. Di Pasar Pedurungan Semarang, harga komoditas seperti cabai, bawang merah, hingga pare merangkak naik dalam beberapa hari terakhir.
Fenomena kenaikan harga ini seolah menjadi siklus tahunan yang sudah biasa bagi para pedagang. Pak Nur, salah satu pedagang di Pasar Pedurungan, mengungkapkan bahwa tren kenaikan ini mulai terasa beberapa hari sebelum puasa.
“Mulai mau puasa ini sudah naik,” ujar Pak Nur saat kami temui di lapaknya.
Ia merinci beberapa kenaikan harga yang cukup mencolok:
Bawang Merah: Naik dari Rp30.000 menjadi Rp35.000 per kg.
Cabai: Naik dari Rp30.000 menjadi Rp35.000 per kg.
Pare (Paria): Mengalami lonjakan tertinggi, dari Rp15.000 menjadi Rp25.000 per kg.
Bawang Putih: Sejauh ini harga masih terpantau stabil.
Strategi Pedagang Menghadapi Keterbatasan Modal
Lonjakan harga ini menghadirkan tantangan besar bagi pedagang kecil. Pak Nur mengaku harus memutar otak dan memangkas jumlah stok barang (kulakan) karena modal yang terbatas.
“Biasanya saya kulakan 10 kilo, sekarang paling cuma 5 kilo. Modalnya tidak sampai kalau dipaksakan,” keluh pria asal Dempet ini.
Pak Nur, yang memulai aktivitas dagangnya sejak pukul 03.00 dini hari hingga 11.00 siang, sangat bergantung pada harga dari pemasok. Karena mendapatkan pasokan barang dari pengepul dan kampung-kampung, ia terpaksa menyesuaikan harga jual mengikuti harga pasar.
“Semua bahan ini hasil kulakan. Kalau dari pemasok naik, ya di sini juga terpaksa saya naikkan harganya,” pungkasnya.
Antusiasme Pembeli Masih Stabil
Meski harga-harga mulai “mencekik”, Pak Nur melihat minat masyarakat belum menurun. Pada awal masa kenaikan harga seperti sekarang, pembeli justru cenderung tetap ramai untuk mempersiapkan kebutuhan Ramadan.
Namun, ia belum bisa memprediksi apakah daya beli masyarakat akan tetap stabil dalam beberapa hari ke depan jika harga terus merangkak naik. Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk persiapan puasa, pedagang kecil seperti Pak Nur kini harus lebih pintar mengatur perputaran modal agar usaha mereka tetap bertahan. (01).



