Beranda Daerah 9 Tahun Maiyah Kalijagan: Sabrang MDP Ajak Masyarakat Demak Perkuat “Gambuh” Lewat...

9 Tahun Maiyah Kalijagan: Sabrang MDP Ajak Masyarakat Demak Perkuat “Gambuh” Lewat Aksi Nyata

Forum yang telah menginjak tahun kesembilan ini membuktikan relevansinya dalam merespons tantangan kebangsaan dan realitas sosial.

Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto)
Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto) sebagai narasumber utama Maiyah Kalijagan di Kabupaten Demak, Sabtu (1/2/2026). (Foto: dok)

DEMAK, Jatengnews.id – Majelis Masyarakat Maiyah Kalijagan Tlatah Demak kembali mempertegas perannya sebagai ruang dialog sosial-budaya. Melalui forum sinau bareng bertema “Gambuh” pada Sabtu (28/2/2026).

Forum yang telah menginjak tahun kesembilan ini membuktikan relevansinya dalam merespons tantangan kebangsaan dan realitas sosial.

Acara yang berlangsung di bangunan cagar budaya abad ke-19 ini menghadirkan Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto) sebagai narasumber utama. Hadir pula Sekretaris Daerah Kabupaten Demak, Sugiharto, Pengasuh Pondok Al-Ishlah KH Ali Masydar, serta perwakilan Yayasan Joglo Notobratan.

Memaknai “Gambuh” Sebagai Sinergi Kolektif

Dalam tradisi macapat, Gambuh berarti pertemuan atau penyatuan. Sabrang menegaskan bahwa makna ini harus melampaui sekadar pertemuan fisik.

“Gambuh bukan sekadar bertemu secara fisik, tetapi menyatukan niat, kesadaran, dan tanggung jawab sosial,” tegas Sabrang di hadapan para penggiat Maiyah.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan wacana atau menunggu perubahan dari pemerintah pusat. Menurutnya, tantangan bangsa saat ini menuntut langkah konkret yang dimulai dari lingkungan terdekat.

“Masyarakat perlu memperkuat inisiatif, membuka peluang usaha, menciptakan ruang kerja, dan saling menopang. Di situlah makna gambuh menjadi nyata,” tambahnya.

Dialog Tanpa Sekat di Tlatah Demak

Sabrang menilai forum Maiyah merupakan energi kolektif untuk belajar bersama tanpa batasan status. Di forum ini, semua orang duduk setara tanpa ada yang merasa paling tahu untuk membaca tanda-tanda zaman.

Senada dengan hal tersebut, sesepuh Kalijagan, Ali Darmo, menjelaskan konsistensi Maiyah Kalijagan dalam mengkaji nilai keteladanan Sunan Kalijaga. Mereka menggunakan suluk dan tembang sebagai medium pendidikan kultural yang efektif membangun kesadaran sosial berbasis spiritualitas.

Sekda Demak, Sugiharto, mengapresiasi konsistensi forum ini sebagai ruang dialog inklusif. Ia menganggap sinergi antara komunitas budaya, tokoh agama, dan pemerintah sebagai modal utama merawat harmoni sosial di Demak.

Pesan ini semakin kuat karena pemilihan lokasi di gedung bersejarah. Perwakilan Yayasan Joglo Notobratan menyampaikan bahwa filosofi “mancing” (simbol pitulungan atau pertolongan) sangat selaras dengan semangat kolaborasi yang diusung forum ini.

Hingga akhir acara, diskusi berlangsung interaktif. Maiyah Kalijagan sukses mempertemukan refleksi budaya dengan pembacaan kritis atas persoalan bangsa, sekaligus mempertegas komitmennya sebagai ruang tumbuhnya inisiatif kolektif di tengah dinamika zaman. (01).

Exit mobile version