
SEMARANG, Jatengnews.id – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan kesiapan pemerintah kota dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan bahan pokok bagi masyarakat.
Salah satu langkah strategis adalah pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak yang dipusatkan di Kantor Kecamatan Semarang Barat dan Pasar Pangan Murah “Pak Rahman” di Kecamatan Mijen pada Jumat (6/3/2026). Pemkot menargetkan 240 operasi pasar hingga akhir Ramadan.
Agustina menjelaskan bahwa operasi pasar dilakukan bekerja sama dengan Satgas Pangan Kota Semarang melalui dua moda distribusi utama, yaitu “Pak Rahman” dan “Kempling Semar”, yang secara rutin menjangkau berbagai titik di kota.
“Berdasarkan koordinasi dengan Satgas Pangan, kami memutuskan untuk menambah jumlah operasi pasar. Targetnya 240 lokasi hingga akhir puasa, dengan armada bergerak setiap hari ke 3–4 titik. Ini agar bahan pangan bisa langsung sampai ke masyarakat,” ujar Agustina.
Dalam pelaksanaan GPM Serentak, data distribusi menunjukkan pergerakan logistik yang besar. Di Semarang Barat, 1,5 ton beras SPHP, 3 ton beras medium, 300 kg bawang putih, serta berbagai komoditas seperti gula, minyak goreng, dan telur disalurkan dengan dukungan 23 mitra strategis. Sementara di Mijen, pasokan ditambah dengan stok protein lebih lengkap, termasuk daging dan ayam, menyesuaikan kebutuhan warga setempat.
“Tim Kempling Semar bekerja dengan presisi. Di Mijen stoknya lebih lengkap karena permintaan warga tinggi, berbeda dengan Semarang Barat yang fokus pada kebutuhan pokok dasar. Barang jarang tersisa karena tim memahami karakteristik tiap lokasi,” jelasnya.
Intervensi pasar ini mulai memberi dampak positif terhadap harga komoditas, terutama hortikultura. Harga cabai yang sempat menyentuh Rp95.000–Rp100.000 per kilogram kini berhasil ditekan menjadi sekitar Rp75.000 per kilogram melalui jalur distribusi langsung dari produsen.
Agustina menambahkan bahwa Satgas Pangan terus bergerak sepanjang tahun untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok dan mengendalikan inflasi. Keberhasilan menekan inflasi Semarang hingga 2,1 persen pada akhir tahun lalu menjadi motivasi untuk menjaga daya beli masyarakat.
“Masa depan kesejahteraan warga bergantung pada keterjangkauan pangan. Kami bertugas memastikan akses pangan terbuka dan harga terukur bagi seluruh lapisan masyarakat Semarang,” pungkas Agustina. (03)