SEMARANG, Jatengnews.id — Puluhan ibu-ibu menunjukkan semangat tinggi saat mengikuti pelatihan pembuatan garnish di Aula Kelurahan Sumurrejo, Kamis (9/4/2026) siang. Lebih dari 30 peserta dari berbagai Kelompok Kerja (Pokja) RT dan RW di wilayah Kelurahan Sumurrejo antusias menyerap ilmu dalam kegiatan tersebut.
Narasumber pelatihan, Siti Rosadah, menjelaskan bahwa garnish merupakan hiasan makanan yang terbuat dari sayuran atau buah segar, seperti wortel, timun, pepaya, cabai, dan tomat.
Dalam pelatihan ini, para peserta belajar membentuk bahan-bahan tersebut menjadi aneka bunga atau hewan unik untuk mempercantik hidangan. Kehadiran garnish terbukti mampu memperindah tampilan tumpeng serta berbagai jenis makanan lainnya, sehingga menambah daya tarik dan menggugah selera makan.
Siti menambahkan bahwa pelatihan ini tidak sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga membuka peluang untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Keterampilan ini sangat berguna saat warga menghadapi berbagai kegiatan, seperti hajatan, peringatan hari besar, maupun acara lainnya. Pihak penyelenggara berharap masyarakat ke depan mampu menghias tumpeng secara mandiri.
“Pada tahap awal, pembuatan garnish bisa memakan waktu hingga tiga jam, tergantung tingkat kesulitan modelnya. Biasanya, membuat bunga dari pepaya cukup sulit dan membutuhkan kesabaran ekstra. Jadi, jangan sampai menyerah,” ujar Siti, yang pernah meraih Juara 2 tingkat provinsi dalam lomba pembuatan garnish.

Sementara itu, Lurah Sumurrejo, Dwi Asih Sunarmiati, SH, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari program pemberdayaan perempuan tahunan. Program tersebut merealisasikan rencana pemberdayaan perempuan dan anak yang telah tersusun sejak beberapa tahun lalu.
Menurut Dwi Asih, Kelurahan Sumurrejo secara konsisten memberikan berbagai pelatihan bagi warga, mulai dari keterampilan daur ulang, pengolahan makanan, hingga pembuatan garnish.
Target Kemandirian Warga
“Kami ingin ibu-ibu memiliki keterampilan praktis. Jadi, saat ada kegiatan di lingkungan RT atau RW, warga tidak perlu lagi memesan jasa hias dari luar karena sudah bisa membuatnya sendiri. Jika sudah mahir, keterampilan ini bahkan bisa menjadi peluang usaha untuk menerima pesanan,” jelas Dwi Asih.
Ia juga berharap pihaknya dapat melaksanakan pelatihan serupa secara berkelanjutan agar peserta benar-benar menguasai teknik tersebut secara mendalam.
“Ke depan, kami berencana melanjutkan pelatihan ke tahap berikutnya, seperti membuat hiasan dari bahan lain atau keterampilan tambahan yang saling melengkapi,” pungkasnya.
Salah satu peserta, Siti Asrofah, menyambut positif kegiatan ini. Menurutnya, pelatihan tersebut sangat bermanfaat karena memberikan kesempatan bagi ibu-ibu untuk mempelajari ilmu yang jarang mereka dapatkan. Ia berharap para warga semakin mandiri dalam berkreasi, sehingga hasil karya mereka semakin bagus dan mampu mendatangkan pesanan di masa depan. (01).



