
SALATIGA, Jatengnews.id – Suasana Idul Fitri mungkin telah berlalu, namun semangat berbagi tetap menyala di Kota Salatiga Provinsi Jawa Tengah. Bagi sejumlah warga prasejahtera, kebahagiaan pasca-Lebaran tahun ini terasa jauh lebih istimewa karena akhirnya mereka dapat menikmati akses listrik mandiri untuk pertama kalinya.
Bagi Woro, seorang ibu rumah tangga di Dusun Gamol, Kelurahan Kecandran, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga momen ini menjadi titik balik hidupnya. Selama bertahun-tahun, ia harus menggantungkan kebutuhan listriknya pada kebaikan hati tetangga. Keterbatasan ekonomi membuatnya tak mampu membayar biaya pasang baru.
“Selama ini saya menyambung (listrik) dari rumah tetangga. Kalau mau masak nasi saja harus gantian karena dayanya tidak cukup. Sekarang sudah dapat bantuan dari PLN, terima kasih banyak,” ujar Woro dengan penuh haru saat ditemui di kediamannya.
Kini, dengan listrik yang menyala terang secara mandiri, Woro tidak lagi khawatir aktivitas rumah tangganya terhambat. Akses energi ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kenyamanan keluarganya.
Melalui program Sambung Listrik Gratis, PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Salatiga memberikan bantuan kepada empat keluarga prasejahtera pada Kamis (9/4). Program ini menjadi langkah nyata PLN dalam memperluas pemerataan akses energi.
Manager PLN UP3 Salatiga, Vicky Reandry Faradian, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bentuk keberlanjutan semangat berbagi yang telah dipupuk selama bulan Ramadan.
“Kami berharap sambungan listrik ini tidak hanya sekadar memberikan penerangan di malam hari, tetapi juga menjadi stimulan untuk meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas ekonomi para penerima manfaat secara berkelanjutan,” jelas Vicky.
Berkah dari Program Sembako Murah
Menariknya, sumber dana program sambung listrik gratis ini berasal dari hasil penjualan sembako murah yang digelar PLN selama Ramadan lalu. Dari aksi sosial yang sederhana tersebut, terkumpul dana kepedulian yang dikonversi menjadi manfaat jangka panjang bagi warga yang membutuhkan.
Pasca Idul Fitri, di saat sebagian orang kembali ke rutinitas biasa, bagi Woro dan keluarga lainnya, ini adalah babak baru. Cahaya yang kini menyala di rumah mereka bukan sekadar aliran daya, melainkan simbol kemandirian dan harapan akan masa depan yang lebih cerah. (01).