SEMARANG, Jatengnews.id – Warga terdampak bencana tanah gerak di Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, masih harus bertahan di pengungsian dengan harapan sederhana: segera mendapatkan hunian tetap (huntap) yang aman dan layak.
Meski rencana relokasi mulai menunjukkan titik terang, ketidakpastian teknis dan lamanya proses membuat warga harus bersabar. Pantauan di lokasi, tenda pengungsian sempat terlihat lengang pada sore hari. Namun, kondisi tersebut bukan berarti ditinggalkan.
“Kalau sore masih pada kerja dan di rumah masing-masing, nanti malam pada balik ke sana,” kata Dadang Suyanto saat ditemui, Kamis (16/4/2026).
Warga mengaku masih harus bolak-balik antara rumah dan tenda. Meski siang hari digunakan untuk mengecek kondisi rumah, mereka tetap memilih kembali ke pengungsian saat malam demi keselamatan.
“Kalau cuma balik ngecek rumah enggak apa-apa, tapi malam tetap harus balik ke tenda. Soalnya masih bahaya, tahu-tahu amblasnya makin parah,” ujarnya.
Kondisi di pengungsian pun jauh dari nyaman. Saat hujan turun, tenda kerap bocor dan mengganggu aktivitas, terutama bagi anak-anak.
“Di tenda itu enggak nyamannya kalau hujan. Anak saya usia empat tahun kesulitan tidur, pernah sakit juga,” keluh Dadang.
Warga juga sempat dihantui kekhawatiran harus meninggalkan lokasi pengungsian karena masa izin penggunaan lahan yang semula dibatasi hingga 16 April 2026. Namun, pemerintah kota dikabarkan telah mengupayakan perpanjangan agar lokasi tersebut tetap bisa digunakan sementara waktu.
Harapan warga kini tertuju pada rencana relokasi ke wilayah Rowosari. Meski demikian, hingga saat ini belum ada kejelasan terkait bentuk hunian, luas lahan, maupun skema kepemilikan.
“Sudah ada, katanya di Rowosari. Tapi gimana nanti skemanya belum tahu. Karena belum jadi, warga diminta tetap tinggal di tenda dulu,” kata Dadang.
Hal serupa disampaikan Supardi, warga lainnya yang rumahnya terdampak cukup parah. Ia mengaku lega mendengar rencana relokasi, meski masih diliputi ketidakpastian.
“Katanya infonya ke Rowosari. Ya senang lah daripada di sini terdampak, tidak nyaman,” ucapnya.
Namun, persoalan biaya menjadi kekhawatiran tersendiri, mengingat sebagian warga memiliki penghasilan tidak tetap.
“Masalah ngontrak atau bayar itu belum tahu. Tapi kalau mampu ya tidak apa-apa, sesuai kemampuan. Soalnya saya kuli bangunan, kerja serabutan,” ungkapnya.
Ketua RT setempat, Joko Sukaryono, memperkirakan warga masih harus bertahan di pengungsian selama satu hingga dua bulan ke depan sambil menunggu proses pembangunan huntap.
“Tapi karena masih proses, tendanya untuk sementara jadi huntara. Ya sekitar dua bulan ke depan masih di sana sembari menunggu huntap,” jelasnya.
Ia menegaskan, warga berharap janji pemerintah dapat direalisasikan tanpa mempersoalkan skema yang akan diterapkan.
“Harapan kami jelas, sesuai janji pemerintah, warga bisa mendapatkan huntap. Mau seperti apa skemanya nanti, kita siap mengikuti,” katanya.
Di sisi lain, proses relokasi masih bergantung pada kesiapan lahan yang disiapkan Pemerintah Kota Semarang. Hingga kini, lahan di Rowosari masih dalam tahap pengkajian dan belum sepenuhnya dipastikan.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, mengatakan ketersediaan lahan menjadi faktor utama dalam percepatan pembangunan hunian.
“Pemkot sedang berusaha menyiapkan lahannya untuk kemudian diberikan kepada warga. Tapi kalau lahannya tidak memenuhi syarat, kemungkinan arahnya masih sementara dengan membangun huntara, sehingga tetap ada tanggungan huntap,” terangnya.
Sementara itu, pihak Kelurahan Rowosari membenarkan adanya rencana relokasi, meski belum dapat memastikan titik lokasi secara detail.
“Kemarin baru dilihat di Rowosari, untuk status tanahnya aset pemkot. Kepastiannya nanti Pemkot yang menentukan,” ujar Lurah Rowosari, Eko Pudji Harijadi.
Dengan total 23 kepala keluarga atau 63 jiwa terdampak, warga kini hanya bisa bertahan di tengah keterbatasan sambil menunggu kepastian. Di balik situasi yang belum menentu, harapan mereka tetap sama: segera keluar dari pengungsian dan kembali hidup dengan rasa aman.(02)



