Panitia Turnamen Piala Ketua KONI Pusat di Semarang Buka Suara

sejumlah orang tua peserta dan pengelola SSB mengkritik keras pelaksanaan turnamen karena dinilai terlalu memforsir fisik anak-anak

SEMARANG, Jatengnews.id – Polemik turnamen sepak bola usia dini “Road to Kejurnas Piala Bergilir Ketua KONI Pusat ke-VII” di Semarang terus bergulir. Hal ini terjadi setelah viralnya video sejumlah anak yang menangis usai bertanding di Lapangan Banteng Raiders, Semarang.

Menanggapi kritik dari orang tua peserta dan pengelola Sekolah Sepak Bola (SSB), Operator Regional Semarang Raya turnamen tersebut, Agus Yulianto, memberikan klarifikasi terkait jalannya pertandingan yang dituding berlangsung hingga malam hari.

Menurut Yulianto, video viral yang beredar tersebut hanya potongan kejadian saat laga final kategori usia 2016, bukan keseluruhan pertandingan.

“Kalau sepak bola itu, final yang anak-anak menangis itu kejadiannya sore, Mas, sekitar jam 5. Video lengkapnya saya punya,” kata Agus Yulianto saat dikonfirmasi Jatengnews.id, Senin (25/5/2026) petang.

Ia menjelaskan bahwa pertandingan awalnya berjalan normal dan kondisi lapangan masih terang benderang pada babak pertama.

“Babak pertama aman. Babak kedua memang mulai gelap,” ujarnya.

Yulianto menegaskan, keputusan melanjutkan pertandingan hingga adu penalti bukanlah kebijakan sepihak panitia, melainkan hasil kesepakatan kedua tim bersama perangkat pertandingan.

“Yang punya kuasa di pertandingan itu wasit. Akhirnya ada kesepakatan kedua belah pihak lewat pengawas pertandingan dan wasit. Kalau tidak sepakat, ya enggak akan kejadian. Nah, yang kejadian kemarin itu kedua tim sepakat adu penalti,” tegasnya.

Yulianto juga membantah anggapan bahwa laga final baru dimulai setelah waktu Magrib.

“Tidak benar kalau diselenggarakan habis Magrib. Mulainya jam 5 sore dan masih terang. Nanti saya kasih bukti videonya,” tambah Yulianto.

Meski begitu, ia mengakui kondisi mulai gelap saat babak kedua berlangsung. Dalam situasi tersebut, panitia berupaya menghadirkan penerangan tambahan menggunakan lampu sorot milik kepolisian.

“Saya akhirnya mengusahakan bantuan satu lampu sorot punya polisi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa opsi pemindahan venue sebenarnya terbuka, namun keputusan tetap melanjutkan laga murni hasil komunikasi kedua tim dan perangkat pertandingan.

Dalam wawancara tersebut, Yulianto menyinggung bahwa pihak yang pertama kali memviralkan video tersebut berasal dari tim yang kalah di partai final.

“Yang memviralkan adalah pihak yang kalah,” cetusnya.

Kendati demikian, Yulianto mengaku memiliki hubungan baik dengan akademi tersebut dan merasa heran mengapa polemik ini bisa berkembang begitu besar.

Terkait legalitas kompetisi, Yulianto membantah kabar burung yang menyebut turnamen digelar tanpa rekomendasi KONI. Ia menegaskan ajang ini merupakan bagian dari agenda resmi bertajuk “Road to Kejurnas Piala Ketua KONI Pusat”.

“Ini hajatan KONI Pusat. Saya hanya memegang regional untuk penyelenggaraan Piala Ketua KONI Pusat,” jelasnya.

Yulianto juga mengklaim telah melakukan audiensi dengan Sekretaris Umum KONI Jawa Tengah sebelum turnamen bergulir.

“Saya sudah audiensi dengan Sekum, Pak Budi Santoso,” ujarnya. Namun, ia mengakui penggunaan nama “KONI Jateng” secara langsung memang belum memungkinkan, sehingga mereka bergerak mengantongi rekomendasi dari KONI Pusat.

Sebelumnya diberitakan jatengnews.id, sejumlah orang tua peserta dan pengelola SSB mengkritik keras pelaksanaan turnamen karena dinilai terlalu memforsir fisik anak-anak.

Mereka menyoroti jadwal pertandingan yang molor dari pagi hingga malam hari, minimnya waktu istirahat bagi pemain, hingga kondisi lapangan yang gelap dan dinilai tidak layak saat adu penalti berlangsung.

Video anak-anak yang menangis usai pertandingan itu pun viral di media sosial dan memicu berbagai komentar miring dari masyarakat serta pegiat sepak bola usia dini di Jawa Tengah.

Hingga kini, polemik tersebut masih menjadi sorotan publik, terutama terkait standar penyelenggaraan kompetisi sepak bola anak-anak serta pentingnya menjaga aspek keselamatan dan psikologis pemain usia dini. (01).

Penulis: Muhammad Kamal
Editor: Shodiqin

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN