Beranda Daerah Santri Korban Diduga Keracunan MBG, PGSI Demak Tuntut Kompensasi Rp2 Juta per...

Santri Korban Diduga Keracunan MBG, PGSI Demak Tuntut Kompensasi Rp2 Juta per Korban

Kasus ini kini menjadi perhatian berbagai pihak, terutama terkait pengawasan kualitas makanan dalam program MBG

Santri yang diduga mengalami keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menjalani perawatan di RSUD Sultan Fatah Karangawen, Kabupaten Demak. (Foto : Sam)
Santri yang diduga mengalami keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menjalani perawatan di RSUD Sultan Fatah Karangawen, Kabupaten Demak. (Foto : Sam)

DEMAK, Jatengnews.id – Sejumlah santri yang diduga mengalami keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menjalani perawatan di RSUD Sultan Fatah Karangawen, Kabupaten Demak.

Menyikapi hal tersebut, Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) Kabupaten Demak mendesak pihak SPPG Dempel Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, untuk memberikan kompensasi kepada para korban.

Ketua PGSI Demak, Noor Salim, bersama rombongan yang terdiri dari Tenaga Ahli Bidang Komunikasi Lintas Tokoh Hayyin Fuad, Ketua Forum Komunikasi Kepala Sekolah Swasta (FKKSS) Demak, serta Ketua RMI (Robithoh Ma’ahid Islamiyah) Karangawen, Nur Khamim Nawawi, melakukan kunjungan sekaligus trauma healing kepada para santri.

Kedatangan rombongan PGSI diterima oleh Manajemen On Duty (MOD) RSUD, Ibu Tinie. Berdasarkan data rumah sakit, sebanyak 15 santri dirawat di ruang inap, sementara satu santri lainnya masih berada di Instalasi Gawat Darurat (IGD) setelah masuk pada Senin siang.

Sebagian besar santri masih mengeluhkan gejala seperti pusing, mual, dan nyeri perut. Mereka saat ini didampingi oleh orang tua serta para ustaz dan guru dari pondok pesantren masing-masing.

Di sisi lain, para orang tua santri mengaku mengalami kerugian ekonomi karena harus meninggalkan pekerjaan selama dua hari untuk menjaga anak mereka di rumah sakit. Sementara itu, salah satu santri, Najwa, siswi kelas 9 MTs, mengaku mengalami trauma terhadap makanan MBG dan khawatir tertinggal pelajaran menjelang ujian madrasah pekan depan.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan PGSI memberikan dukungan moral kepada para santri agar tetap semangat dan optimistis dalam menjalani pemulihan. Ketua RMI Karangawen, Nur Khamim Nawawi, menegaskan bahwa para santri tidak perlu khawatir terhadap lingkungan pondok, karena sumber keracunan diduga bukan berasal dari pesantren.

Sementara itu, Hayyin Fuad menyampaikan bahwa pihaknya akan mendorong perbaikan sistem penyediaan makanan agar kejadian serupa tidak terulang. Ia juga meminta para santri dan siswa untuk tidak mengalami trauma berkepanjangan terhadap program MBG.

PGSI Demak secara tegas menuntut agar pihak SPPG Dempel Pilangwetan memberikan kompensasi sebesar Rp2 juta kepada setiap korban. Ketua PGSI, Noor Salim, menyebut kompensasi tersebut sebagai bentuk tanggung jawab atas kerugian materiel dan psikis, termasuk kehilangan pendapatan orang tua, trauma santri, hingga potensi ketertinggalan pelajaran.

“Jika tuntutan ini tidak dipenuhi, maka pesantren dan sekolah akan mempertimbangkan untuk mengalihkan penyedia MBG ke SPPG lain,” tegas Noor Salim, Selasa (21/4/2026).

Lebih lanjut, PGSI juga mengancam akan melaporkan kasus ini ke Badan Gizi Nasional (BGN) di tingkat pusat untuk meminta penutupan permanen SPPG Dempel Pilangwetan. Menurutnya, insiden ini berpotensi mencoreng program unggulan pemerintah yang saat ini tengah digalakkan.

Kasus ini kini menjadi perhatian berbagai pihak, terutama terkait pengawasan kualitas makanan dalam program MBG, guna memastikan keselamatan dan kesehatan para peserta didik tetap terjaga. (03)

Exit mobile version