
BANDUNG, Jatengnews.id — Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pelatihan terus dilakukan oleh akademisi. Hal ini tercermin dari keikutsertaan empat Guru Besar Program Studi S1 Manajemen Pendidikan Islam (MPI) UIN Walisongo Semarang dalam kegiatan Training of Trainers (ToT) yang diselenggarakan oleh Perma Pendis Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat hingga Ahad (24–26 April 2026), ini bertempat di Hotel Grand Pasundan Convention Hotel, Kota Bandung, Jawa Barat. Pelatihan dimulai setiap hari pukul 08.00 WIB dengan rangkaian materi yang berfokus pada penguatan kompetensi trainer berbasis kebutuhan dunia kerja.
Empat Guru Besar yang hadir dalam kegiatan tersebut yakni Prof. Dr. Mustaqim, M.Pd., Prof. Dr. Fatah Syukur, M.Ag., Prof. Dr. Fatkuroji, M.Pd., dan Prof. Dr. Fahrurrozi, M.Pd. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen akademisi dalam mengembangkan kapasitas sebagai pelatih profesional yang sesuai dengan standar nasional.
Materi yang disampaikan dalam ToT ini menitikberatkan pada metodologi pelatihan berbasis kompetensi (PBK) untuk sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) level 4 sebagai instruktur atau trainer. Pendekatan ini menekankan pentingnya kemampuan dalam merancang, melaksanakan, serta mengevaluasi pelatihan secara sistematis dan terukur.
Pelatihan berbasis kompetensi diawali dengan proses Training Need Analysis (TNA), yaitu identifikasi kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki peserta dengan standar yang diharapkan. Hasil analisis ini menjadi dasar dalam penyusunan program pelatihan yang terarah. Kurikulum kemudian dirancang sebagai panduan umum, yang dilengkapi dengan silabus dan modul untuk merinci materi, metode, serta sistem evaluasi.
Dalam pelaksanaannya, pendekatan andragogi menjadi pilihan utama mengingat peserta pelatihan adalah orang dewasa. Metode pembelajaran yang digunakan pun bersifat partisipatif, seperti diskusi, simulasi, role play, dan problem-based learning. Trainer dalam hal ini berperan sebagai fasilitator yang mendorong keterlibatan aktif peserta.
Setiap sesi pelatihan disusun dalam bentuk lesson plan atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mencakup tujuan, materi, metode, tahapan kegiatan, serta evaluasi. Hal ini bertujuan agar proses pelatihan berjalan sistematis dan terukur.
Evaluasi pelatihan dilakukan dengan menggunakan model Kirkpatrick yang meliputi empat aspek, yaitu reaksi peserta, peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku, dan dampak terhadap kinerja. Selain itu, asesmen berbasis kompetensi juga harus memenuhi prinsip valid, reliabel, fleksibel, dan adil. Bukti penilaian dapat diperoleh melalui observasi langsung, dokumen pendukung, maupun bukti tambahan lainnya.
Penilaian dalam pelatihan ini menggunakan pendekatan acuan patokan (PAP), yang menentukan apakah peserta telah dinyatakan kompeten atau belum kompeten. Aspek keselamatan kerja juga menjadi perhatian melalui penerapan Job Safety Analysis (JSA) guna mengidentifikasi serta meminimalkan risiko selama proses pelatihan berlangsung.
Secara keseluruhan, kegiatan ini menegaskan bahwa seorang trainer profesional tidak hanya dituntut memiliki kemampuan menyampaikan materi, tetapi juga mampu merancang keseluruhan perangkat pelatihan secara komprehensif. Dengan mengikuti ToT ini, para Guru Besar diharapkan semakin siap menciptakan proses pembelajaran yang efektif, interaktif, serta berorientasi pada pencapaian kompetensi peserta. (03)