DEMAK, Jatengnews.id – Menjelang musim kemarau tahun 2026, para petani garam di Desa Kedungkarang, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak mulai melakukan berbagai persiapan untuk mengoptimalkan hasil produksi.
Perbaikan sarana seperti saluran irigasi, tanggul, hingga pemasangan geomembran menjadi fokus utama dalam tahap awal ini.
Kepala Desa Kedungkarang, Muhdi, mengungkapkan bahwa saat ini para petani tengah memasuki fase pengeringan lahan tambak sebagai bagian dari persiapan produksi. Ia memperkirakan aktivitas produksi garam akan mulai berjalan pada Juni hingga Juli, seiring datangnya musim kemarau.
“Saat ini para petani garam sedang dalam proses persiapan seperti pengeringan lahan. Biasanya produksi akan dimulai saat musim kemarau, sekitar bulan Juni atau Juli,” ujar Muhdi, Kamis (30/4/2026).
Muhdi menjelaskan, mayoritas warga Desa Kedungkarang menggantungkan hidup sebagai petani garam dan nelayan. Saat musim kemarau panjang, hasil produksi garam bisa sangat melimpah, bahkan mencapai lebih dari 70 ton per hektare.
Dalam hal pemasaran, petani biasanya menjual hasil panen secara bertahap. Pada awal panen, sebagian hasil langsung dijual, sementara produksi berikutnya—khususnya pada bulan Agustus—lebih banyak disimpan di gudang pribadi atau di fasilitas Gedung Garam Nasional (GGN).
Keberadaan GGN dinilai menjadi solusi penting dalam menjaga stabilitas harga garam. Gudang yang dibangun pemerintah melalui Dinas Kelautan ini memiliki kapasitas penyimpanan hingga puluhan ribu ton dan dapat dimanfaatkan petani melalui sistem koperasi.
“Melalui koperasi, petani bisa menyimpan garam di GGN. Minimal setiap petani menyimpan sekitar 25 karung. Nantinya, saat harga naik, baru dijual,” jelas Muhdi.
Ia menambahkan, sistem ini memberikan fleksibilitas bagi petani untuk menentukan strategi penjualan, baik secara langsung maupun sebagai investasi jangka pendek. Distribusi garam dari Kedungkarang pun telah menjangkau berbagai daerah, seperti Solo, Jakarta, hingga Sumatera, dengan volume pengiriman mencapai 7 hingga 10 kontainer saat musim kemarau.
Saat ini, harga garam di tingkat petani berada di kisaran Rp150 ribu per kuintal. Muhdi memperkirakan harga tersebut akan meningkat pada akhir tahun, khususnya November hingga Desember, hingga mencapai sekitar Rp250 ribu per kuintal.
Selain itu, kualitas garam dari Kedungkarang disebut tergolong tinggi dan menjadi salah satu yang terbaik di Kabupaten Demak. Garam mentah yang disimpan di GGN nantinya akan diolah lebih lanjut menjadi garam beryodium.
Dengan dukungan fasilitas Gedung Garam Nasional, diharapkan para petani garam di Desa Kedungkarang mampu meningkatkan nilai jual produk sekaligus menjaga kestabilan harga di pasaran. (03)
