Demak, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang mendampingi kegiatan penyuluhan pencegahan stunting bagi ibu balita di Desa Jleper, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, pada Selasa, (19/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di rumah Ibu Eni tersebut dipandu langsung oleh Bidan Desa Jleper dan diikuti sekitar 12 ibu beserta balitanya.
Penyuluhan ini merupakan bagian dari program kelas ibu balita yang rutin dilaksanakan setiap bulan sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak sejak dini guna mencegah stunting.
Bidan Desa Jleper, Ibu Arinta, menjelaskan bahwa edukasi kepada orang tua sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa emas pertumbuhan.
“Tujuannya untuk memberikan pengetahuan kepada ibu balita agar perkembangan anak ke depannya menjadi anak yang cemerlang, tinggi badan mengalami kenaikan, dan daya ingat anak lebih tajam,” ujar Ibu Arinta.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai pemantauan tinggi dan berat badan anak sesuai usia, pentingnya pemberian ASI dan MPASI, serta pola makan bergizi seimbang bagi ibu menyusui dan balita.
Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui diskusi dan sesi tanya jawab bersama peserta.
Bidan juga menjelaskan bahwa stunting ditandai dengan tinggi badan anak yang tidak sesuai dengan usianya berdasarkan grafik pertumbuhan pada Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
Kondisi tinggi atau berat badan anak yang berada di bawah garis hitam pada grafik pertumbuhan menjadi tanda yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Kurangnya pemahaman orang tua mengenai pola makan, pemberian ASI, MPASI, serta pemantauan pertumbuhan anak masih menjadi salah satu penyebab ditemukannya kasus stunting di masyarakat.
Banyak orang tua menganggap anak yang aktif berarti sehat, padahal belum tentu memiliki status gizi yang baik.
Dalam penyuluhan tersebut, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya protein hewani untuk mendukung pertumbuhan anak, variasi pengolahan makanan agar anak tidak mengalami Gerakan Tutup Mulut (GTM), serta pentingnya pengaturan pola makan dan pola tidur anak sejak dini.
Bidan menjelaskan bahwa masa emas pertumbuhan anak dimulai sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun sehingga pemenuhan gizi harus diperhatikan secara optimal.
Setelah usia enam bulan, anak juga sudah dapat diberikan MPASI dengan variasi makanan yang sesuai kebutuhan gizinya.
Salah satu pembahasan yang menarik perhatian peserta adalah kebiasaan anak bermain pada malam hari dan tidur pada siang hari yang dapat memengaruhi pola makan anak.
Selain itu, permasalahan GTM juga menjadi perhatian karena banyak dipengaruhi kesalahan pola pemberian makan sejak dini.
Bidan menyarankan agar orang tua memberikan makanan sesuai usia anak, mengurangi pemberian jajanan sebelum makan utama, dan membiasakan anak makan saat perut kosong agar anak lebih mudah menerima makanan.
Para peserta menyambut positif kegiatan edukasi tersebut. Salah satu ibu balita, Ibu Miskiyah, mengaku kegiatan ini sangat membantu masyarakat dalam memahami tanda-tanda stunting dan kurang gizi pada anak.
“Kegiatannya sangat berguna, karena orang kampung ada yang tidak paham. Ada anak yang kelihatannya aktif padahal ternyata stunting atau kurang gizi,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa materi yang diberikan mudah dipahami dan memberikan wawasan baru mengenai dampak stunting terhadap tumbuh kembang anak.
“Kita jadi tahu tentang bahaya, efek dan dampak stunting. Sebelumnya sebagai orang awam tidak terlalu paham,” tambahnya.
Melalui kegiatan kelas ibu balita ini, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang bersama tenaga kesehatan berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemenuhan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak semakin meningkat sehingga dapat mencegah stunting sejak dini dan menciptakan generasi yang sehat serta berkualitas.
Penulis: Tim Mahasiswa KKN UIN Walisongo
Editor: R. Dian Pramesti



