Merawat Jejak Sejarah Lewat Perangko, Agustina dan Fadli Zon Ajak Generasi Muda Jangan Lupakan Masa Lalu

Pameran filateli ini terbuka untuk masyarakat umum dan berlangsung di Rumah Pohan, kawasan Kota Lama Semarang, mulai 31 Mei hingga 7 Juni 2026

SEMARANG, Jatengnews.id – Selembar perangko mungkin tampak sederhana. Namun di balik ukurannya yang kecil, tersimpan cerita besar tentang perjalanan bangsa.

Pesan itulah yang mengemuka dalam Orasi Publik Filateli bertema “Dalam Cengkeraman Saudara Tua: Jejak Pendudukan Jepang di Indonesia dalam Arsip Filateli 1942-1945” yang digelar Kementerian Kebudayaan RI bersama Pemerintah Kota Semarang di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang, Minggu (31/5/2026).

Kegiatan yang menghadirkan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, dan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, itu menjadi ruang refleksi tentang pentingnya menjaga memori kolektif bangsa melalui arsip dan benda-benda bersejarah.

Di hadapan peserta yang terdiri dari pegiat sejarah, akademisi, kolektor filateli, hingga masyarakat umum, Agustina menegaskan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi penting untuk memahami masa kini dan menata masa depan.

Menurutnya, pameran filateli yang menampilkan berbagai surat, dokumen komunikasi, dan perangko dari masa pendudukan Jepang tahun 1942–1945 menjadi pengingat kuat tentang berbagai peristiwa yang pernah dialami bangsa Indonesia.

“Berdiri di sini bersama para senior adalah upaya untuk menjaga ingatan, untuk menolak lupa,” ujar Agustina.

Ia mengutip pemikiran filsuf Romawi kuno Cicero yang menyebut sejarah sebagai saksi zaman, cahaya kebenaran, memori kehidupan, dan guru bagi kehidupan manusia.

Agustina menilai arsip-arsip yang dipamerkan tidak hanya memiliki nilai koleksi, tetapi juga menyimpan pelajaran penting mengenai bagaimana masyarakat Indonesia bertahan di tengah tekanan rezim militer Jepang. Melalui koleksi filateli tersebut, publik dapat melihat bagaimana komunikasi masyarakat kala itu diawasi secara ketat dan bagaimana perangko menjadi salah satu instrumen kontrol informasi yang digunakan pemerintah pendudukan.

Di tengah derasnya arus informasi digital saat ini, ia menilai keberadaan arsip sejarah justru semakin penting karena mampu menjaga ingatan kolektif agar tidak hilang ditelan zaman.

“Filateli mengajarkan kepada kita bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak kehilangan ingatannya. Karena itu saya mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk datang melihat pameran ini, membaca arsip-arsipnya, dan memahami bagaimana perjalanan bangsa ini dibangun dari pengalaman sejarah yang tidak selalu mudah,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Agustina juga menandatangani Sampul Peringatan Hari Jadi ke-479 Kota Semarang. Momen itu menjadi simbol bahwa sejarah terus ditulis dari generasi ke generasi.

Menurutnya, perangko dan sampul peringatan bukan sekadar benda koleksi, melainkan media untuk menitipkan pesan kepada masa depan tentang perjalanan Kota Semarang yang mampu bangkit dari berbagai tantangan sejarah hingga berkembang menjadi kota metropolitan yang maju dan inklusif.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam orasi ilmiahnya mengajak masyarakat untuk melihat kembali salah satu babak paling kelam dalam sejarah Indonesia, yakni masa pendudukan Jepang selama sekitar tiga setengah tahun.

Ia menjelaskan bahwa periode tersebut meninggalkan banyak luka sejarah, mulai dari keberadaan kamp interniran hingga praktik kerja paksa romusha yang menelan banyak korban.

Menurut Fadli, arsip filateli memiliki nilai penting karena mampu merekam berbagai dinamika sosial dan politik yang terjadi pada masa itu. Perangko, dokumen surat-menyurat, hingga tanda sensor Jepang menjadi bukti autentik yang memperlihatkan bagaimana situasi geopolitik Perang Dunia II memengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia.

“Yang fana adalah waktu, tetapi arsip dan memori bangsa akan selalu abadi. Mari kita merawat keabadian sejarah tersebut,” tegasnya.

Ia juga mengajak kalangan akademisi, pelajar, mahasiswa, serta generasi muda untuk lebih dekat dengan sejarah melalui berbagai medium, termasuk filateli, agar pemahaman terhadap perjalanan bangsa semakin kuat.

Sebagai penutup, Pemerintah Kota Semarang bersama Kementerian Kebudayaan membagikan suvenir eksklusif berupa amplop dan kartu pos filateli kepada para tamu undangan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali minat masyarakat terhadap filateli sekaligus memperluas kesadaran akan pentingnya pelestarian arsip sejarah.

Pameran filateli ini terbuka untuk masyarakat umum dan berlangsung di Rumah Pohan, kawasan Kota Lama Semarang, mulai 31 Mei hingga 7 Juni 2026. Melalui pameran tersebut, pengunjung diajak menyusuri jejak sejarah bangsa dari sudut pandang yang unik: selembar perangko yang menyimpan kisah besar perjalanan Indonesia.

Penulis   : Alif Nazzala Rizqi

Editor     : Jaka Nuswantara

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN