Demak, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler 86 UIN Walisongo Semarang Posko 04 melakukan eksplorasi sejarah dan potensi wisata religi Sumur Gandeng di Desa Bermi, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak.
Kegiatan ini bertujuan menggali nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang masih terjaga di tengah masyarakat sekaligus memperkenalkan salah satu situs bersejarah peninggalan masa lampau yang hingga kini terus dilestarikan warga setempat.
Situs yang berada di kawasan asri dan dikelilingi susunan bata merah tradisional ini memiliki daya tarik tersendiri. Selain menawarkan suasana tenang, Sumur Gandeng juga menyimpan cerita sejarah yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Nama Sumur Gandeng berasal dari keberadaan dua sumur yang berdiri berdampingan dalam satu area. Sejak dahulu, kedua sumur tersebut memiliki fungsi yang berbeda. Satu sumur digunakan sebagai sumber air minum, sementara sumur lainnya dimanfaatkan untuk kebutuhan mandi dan mencuci.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Sumur Gandeng diyakini telah ada sejak masa Kerajaan Mataram. Konon, sumur tersebut dibuat oleh rombongan prajurit Mataram yang singgah di wilayah Desa Bermi saat melakukan perjalanan.
Mata air yang muncul dari sumur tersebut kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat dan terus mengalir hingga sekarang.
Seiring berjalannya waktu, Sumur Gandeng tidak hanya menjadi sumber air bagi warga, tetapi juga berkembang sebagai destinasi wisata religi. Banyak pengunjung datang untuk berziarah, menikmati suasana yang tenang, sekaligus mengenal lebih dekat sejarah yang melekat pada situs tersebut.
Juru Kunci Sumur Gandeng, Mbah Suroto, mengatakan bahwa keberadaan situs ini semakin dikenal oleh masyarakat luas. Menurutnya, banyak pengunjung dari luar daerah yang datang setelah memperoleh informasi mengenai Sumur Gandeng dari berbagai sumber.
“Dulu ada beberapa orang dari berbagai kota yang datang ke sini. Alhamdulillah mereka merasa mendapatkan manfaat setelah berkunjung dan memanfaatkan air Sumur Gandeng,” ujar Mbah Suroto.
Ia juga menambahkan bahwa perkembangan teknologi dan media digital turut berperan dalam memperkenalkan Sumur Gandeng kepada masyarakat yang lebih luas.
“Setelah saya tanyakan, banyak yang mengetahui tempat ini melalui internet dan informasi dari teman-temannya,” tambahnya.
Sebagai bentuk pelestarian warisan budaya dan sejarah, masyarakat Desa Bermi secara rutin menjaga kebersihan kawasan Sumur Gandeng melalui kegiatan kerja bakti. Selain itu, warga juga menggelar kegiatan tahlil bersama setiap selapan sekali atau setiap 35 hari dalam kalender Jawa sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual yang melekat pada situs tersebut.
Keberadaan Sumur Gandeng menjadi bukti bahwa sejarah dan budaya lokal masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat modern.
Tidak hanya menjadi saksi perjalanan masa lalu, situs ini juga berfungsi sebagai sarana edukasi sejarah, wisata religi, dan penguatan identitas budaya masyarakat Desa Bermi.
Dengan suasana yang sejuk, nilai sejarah yang kuat, serta dukungan masyarakat dalam menjaga kelestariannya, Sumur Gandeng terus menjadi salah satu destinasi religi dan budaya yang menarik untuk dikunjungi di Kabupaten Demak.
Penulis: Tim Mahasiswa KKN
Editor: R. Dian Pramesti


