Beranda Daerah BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Dingin pada Malam dan Pagi Hari di Jawa...

BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Dingin pada Malam dan Pagi Hari di Jawa Tengah

Fenomena ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang umum terjadi selama musim kemarau

Cuaca dingin di Jawa Tengah
Ilustrasi cuaca dingin pada malam hari dan pagi hari di Jawa Tengah. (Foto: AI)

SEMARANG, Jatengnews.id – Beberapa hari terakhir, masyarakat di berbagai wilayah Jawa Tengah merasakan suhu udara yang lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari. Kondisi ini merupakan fenomena yang umum terjadi saat musim kemarau dan dikenal masyarakat dengan istilah “bediding”.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang menjelaskan bahwa udara dingin yang dirasakan saat ini bukan merupakan cuaca ekstrem, melainkan karakteristik normal musim kemarau yang terjadi hampir setiap tahun.

Menurut BMKG, suhu udara yang lebih rendah umumnya terjadi pada malam hingga pagi hari, sekitar pukul 18.00 hingga 07.00 WIB. Kondisi ini biasanya lebih terasa di wilayah dataran tinggi, lereng pegunungan, dan kawasan terbuka.

Fenomena tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang umum terjadi selama musim kemarau.

  • Tutupan Awan Lebih Sedikit

Pada musim kemarau, langit cenderung cerah dengan jumlah awan yang lebih sedikit dibandingkan musim hujan. Saat siang hari, permukaan bumi menyerap panas dari sinar matahari. Namun ketika malam tiba, panas yang tersimpan lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer karena tidak banyak awan yang menahan radiasi panas.

Akibatnya, suhu udara pada malam hingga pagi hari menjadi lebih rendah dibandingkan saat musim hujan.

  • Pengaruh Angin Timuran dari Australia

Saat ini wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa Tengah, mulai dipengaruhi angin timuran atau trade wind yang berasal dari Benua Australia.

Massa udara dari Australia cenderung lebih kering dengan kandungan uap air yang rendah. Kondisi tersebut membuat udara terasa lebih sejuk, terutama pada malam hingga dini hari.

  • Kelembapan Udara Menurun

Musim kemarau juga ditandai dengan menurunnya tingkat kelembapan udara. BMKG menjelaskan bahwa kelembapan udara saat musim hujan umumnya berkisar 80 hingga 90 persen, sedangkan pada musim kemarau berada di kisaran 30 hingga 60 persen.

Udara yang lebih kering mempercepat proses penguapan sehingga tubuh manusia merasakan suhu yang lebih dingin dibandingkan saat kelembapan udara tinggi.

  • Pengaruh Kondisi Topografi

Karakteristik wilayah turut memengaruhi suhu udara. Daerah dataran tinggi dan lereng pegunungan umumnya memiliki suhu lebih rendah dibandingkan wilayah dataran rendah maupun perkotaan.

Pada malam hari, suhu di dataran tinggi dapat berada pada kisaran 18–22 derajat Celsius. Sementara itu, suhu di dataran rendah umumnya berkisar antara 23–27 derajat Celsius. Perbedaan suhu tersebut dapat berubah sesuai lokasi dan kondisi cuaca setempat.

Bukan Cuaca Ekstrem

BMKG menegaskan bahwa udara dingin yang dirasakan masyarakat saat ini bukan merupakan cuaca ekstrem. Fenomena ini merupakan karakteristik normal musim kemarau yang terjadi hampir setiap tahun di Jawa Tengah.

Meski demikian, masyarakat diimbau tetap menjaga kesehatan selama periode udara dingin berlangsung.

Agar tetap sehat dan nyaman beraktivitas, BMKG memberikan beberapa saran, antara lain:

Menggunakan pakaian yang cukup hangat saat malam dan pagi hari.

Memperbanyak konsumsi air putih meskipun udara terasa dingin.

Mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh.

Menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan apabila udara terasa terlalu kering.

Dengan memahami penyebab fenomena ini, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi perubahan suhu yang lazim terjadi selama musim kemarau tanpa perlu khawatir berlebihan. (01).

Penulis: Shodiqin
Sumber: BMKG Ahmad Yani Semarang

Exit mobile version