Beranda Daerah Pelaku Industri Kreatif Semarang Khawatir Blackout

Pelaku Industri Kreatif Semarang Khawatir Blackout

Pasokan listrik dinilai menjadi kebutuhan utama yang menunjang berbagai aktivitas kerja di sektor kreatif.

Ketakutan pekerja kreatif tidak ada listrik sama saja tidak ada oksigen.(Foto: AI)
Ketakutan pekerja kreatif tidak ada listrik sama saja tidak ada oksigen.(Foto: AI)

SEMARANG, Jatengnews.id  – Pelaku industri kreatif di Kota Semarang mengaku cemas terhadap isu blackout atau pemadaman listrik yang disebut berpotensi terjadi di Jawa Tengah. Pasokan listrik dinilai menjadi kebutuhan utama yang menunjang berbagai aktivitas kerja di sektor kreatif.

Hafidz, seorang fotografer yang bekerja di salah satu studio foto di Semarang, mengatakan pemadaman listrik yang terjadi beberapa waktu lalu telah mengganggu operasional tempat kerjanya.

“Kalau tidak ada listrik, seluruh pekerjaan terhenti. Semua peralatan yang kami gunakan bergantung pada listrik,” ujarnya, Jumat (19/6/2026).

Menurut Hafidz, aktivitas di studio foto tidak hanya membutuhkan penerangan, tetapi juga perangkat komputer, pendingin ruangan (AC), serta jaringan internet untuk proses pengeditan dan pengiriman hasil foto kepada pelanggan.

Ia menjelaskan bahwa studio tempatnya bekerja belum memiliki generator set (genset) sebagai sumber listrik cadangan. Saat terjadi pemadaman, pihak studio terpaksa memanfaatkan aki mobil untuk membantu menyuplai kebutuhan listrik tertentu.

“Kadang harus menggunakan aki atau mobil sebagai sumber daya sementara. Namun, cara itu tentu tidak bisa digunakan dalam jangka waktu lama,” katanya.

Pemadaman listrik juga berdampak pada pelayanan pelanggan. Hafidz menyebut pelanggan yang sudah datang tetap berusaha dilayani, tetapi calon pelanggan lain terpaksa diminta menunggu hingga listrik kembali normal.

Selain itu, produktivitas studio ikut menurun. Dalam kondisi normal, dua ruangan studio dapat digunakan secara bersamaan. Namun, saat pasokan listrik terganggu, operasional harus dilakukan secara bergantian sehingga kapasitas pelayanan berkurang.

Hafidz berharap gangguan listrik berskala besar tidak terjadi karena dapat menghambat aktivitas ekonomi para pekerja kreatif yang sangat bergantung pada perangkat elektronik dan koneksi internet.

“Bagi pekerja kreatif, listrik itu seperti oksigen. Tanpa listrik, kami tidak bisa bekerja, tidak bisa terhubung ke internet, dan pada akhirnya tidak ada pemasukan,” tuturnya.

Ia menambahkan, keberlangsungan pasokan listrik menjadi faktor penting bagi industri kreatif agar dapat terus beroperasi dan memberikan pelayanan kepada masyarakat secara optimal.

Penulis : M Kamal

Editor : Jaka N

Exit mobile version