SEMARANG, Jatengnews.id – Pergerakan nilai tukar rupiah menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi industri farmasi nasional.
Ketergantungan terhadap sebagian bahan baku impor membuat perusahaan harus mencari strategi agar produksi tetap berjalan optimal tanpa membebani masyarakat melalui kenaikan harga obat yang terlalu tinggi.
Bagi PT Phapros Tbk, tekanan akibat pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan biaya, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat efisiensi dan kemandirian industri farmasi dalam negeri.
Direktur Produksi PT Phapros Tbk, Ida Rahmi Kurniasih, mengungkapkan sebagian bahan baku yang digunakan perusahaan masih berasal dari luar negeri. Kondisi tersebut berdampak pada peningkatan biaya karena transaksi impor sangat dipengaruhi oleh nilai tukar.
“Pelemahan rupiah berimbas untuk Phapros. Sudah ada sebagian bahan baku kami yang impor secara langsung maupun tidak langsung, sehingga mengalami kenaikan harga,” ujarnya di Semarang Sabtu (20/06/2026).
Menghadapi kondisi tersebut, Phapros menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya melalui renegosiasi dengan pemasok bahan baku agar mendapatkan skema harga yang lebih kompetitif, termasuk memperkuat kerja sama melalui kontrak jangka panjang.
Tak hanya itu, perusahaan juga mulai mencari alternatif pemasok serta memperkuat efisiensi di lini produksi. Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu kunci untuk menekan biaya sekaligus menjaga kualitas produk.
“Kami melakukan renegosiasi harga dengan supplier bahan baku, mencari alternatif supplier lain, dan bagaimana menekan biaya produksi agar lebih efisien dengan teknologi,” jelas Ida.

Di sisi lain, industri farmasi juga menghadapi tantangan berupa regulasi yang semakin ketat. Standar yang ditetapkan pemerintah, khususnya oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, menuntut perusahaan untuk terus meningkatkan kemampuan di berbagai aspek, mulai dari produksi hingga pengembangan produk.
Menurut Ida, dukungan pemerintah terhadap industri farmasi nasional menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan sektor ini.
“Kementerian Kesehatan sangat mendukung industri farmasi tanah air. Kami sejalan dengan program dan regulasi pemerintah,” katanya.
Regulasi yang semakin ketat juga menjadi bagian dari upaya memastikan obat yang beredar tetap aman dan berkualitas. Meski terdapat tekanan biaya yang berpotensi memengaruhi harga obat, Phapros memastikan kenaikan masih dalam batas yang dapat diterima dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan pasien.
Untuk memperkuat inovasi, Phapros juga menggandeng perguruan tinggi dalam berbagai program kolaborasi. Salah satunya kerja sama dengan Universitas Negeri Semarang (Unnes) untuk membantu menjawab berbagai tantangan di sektor produksi.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan solusi baru, baik dalam pengembangan produk maupun peningkatan proses manufaktur.
Salah satu produk yang menjadi perhatian adalah obat tuberkulosis (TB). Maraja menjelaskan, penyediaan obat TB membutuhkan proses panjang karena harus melalui berbagai tahapan pengujian, termasuk uji bioekuivalensi (BE).
“Obat TB tidak mudah disediakan karena harus uji BE. Saat ini penyedianya hanya Kimia Farma dan Phapros. Pemerintah membuka tender program pusat setiap tahun dengan jumlah kebutuhan yang berbeda,” jelasnya.
Target Pertumbuhan 2026
Dengan berbagai strategi yang dijalankan, Phapros optimistis menghadapi 2026 dengan target pertumbuhan penjualan dua digit. Bahkan, perusahaan membidik pertumbuhan di atas 20 persen.
Target tersebut akan didorong melalui inovasi berkelanjutan, penguatan produksi, serta efisiensi biaya.
“Inovasi adalah keharusan dalam sistem continuous improvement. Kami tujukan ke arah produk yang lebih baik dan tidak impor, sehingga tidak memberatkan pasien,” kata Maraja.
Ke depan, Phapros juga fokus mengejar efisiensi harga pokok produksi (HPP) serta penghematan energi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga daya saing sekaligus memperkuat peran industri farmasi nasional.
Mendorong Inovasi, Mengurangi Ketergantungan Impor
Selain menjaga efisiensi, Phapros juga memacu inovasi sebagai strategi menghadapi tantangan industri farmasi ke depan. Direktur Pemasaran PT Phapros Tbk, Maraja Jeson Siregar, menyebut perusahaan telah menyiapkan empat produk baru yang akan hadir pada 2026.
Produk tersebut mencakup berbagai kategori, mulai dari vitamin hingga antibiotik. Pengembangan produk baru menjadi bagian dari upaya memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan.
“Di tahun 2026 ada empat produk baru Phapros, mulai dari vitamin sampai antibiotik,” ungkap Maraja.
Penulis : Alif Nazzala Rizqi
Editor : Jaka Nuswantara