SEMARANG, Jatengnews.id – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah mulai berdampak pada pelaku usaha kecil.
Salah satunya dialami Yuni Suharti (67), pemilik usaha laundry di kawasan Pleburan, Semarang, yang mengaku aktivitas usahanya sempat terhenti akibat padamnya aliran listrik.
Dalam sebulan terakhir, Yuni mengalami dua kali pemadaman listrik. Namun, salah satu pemadaman berlangsung cukup lama, yakni sekitar empat hingga lima jam.
“Sebulan ini dua kali. Yang sekali cepat, tetapi yang kemarin itu matinya agak lama. Mulai sekitar pukul 10.30 sampai 15.30,” ujar Yuni saat ditemui di tempat usahanya.
Menurut Yuni, seluruh operasional usaha laundry miliknya bergantung pada listrik. Akibatnya, ketika terjadi pemadaman, seluruh aktivitas produksi terpaksa berhenti.
“Tidak bisa melakukan apa-apa. Semua menggunakan listrik, mulai dari mesin cuci, pengering, hingga setrika,” katanya.
Pemadaman tersebut menyebabkan puluhan kilogram pakaian pelanggan tidak dapat dikerjakan sesuai jadwal. Dalam kondisi normal, usaha laundry miliknya mampu menangani sekitar 50 kilogram pakaian per hari dengan tarif reguler Rp8.000 per kilogram dan layanan ekspres Rp12.000 per kilogram.
“Kalau sehari 50 kilogram tidak bisa dikerjakan, ya tidak ada pemasukan. Karyawan juga tidak bisa bekerja karena mesin cuci tidak dapat digunakan,” ungkapnya.
Yuni menuturkan layanan ekspres menjadi yang paling terdampak. Pasalnya, pelanggan yang memilih layanan satu hari selesai kerap mengeluhkan keterlambatan akibat pemadaman listrik.
“Kalau yang ekspres pasti komplain karena seharusnya selesai dalam satu hari. Kalau yang reguler masih tiga hari, jadi tidak terlalu bermasalah,” ujarnya.
Ia mengakui terkadang mendapatkan informasi mengenai jadwal pemadaman listrik. Namun, tidak jarang dirinya baru mengetahui setelah listrik benar-benar padam.
“Kadang ada pemberitahuan, tetapi saya tidak sempat melihat ponsel atau pengumuman. Yang kemarin saya tahunya ya tiba-tiba listrik mati,” katanya.
Sebagai pelaku usaha kecil, Yuni berharap pasokan listrik dapat lebih andal karena menjadi kebutuhan utama dalam menjalankan usahanya.
“Listrik itu kebutuhan pokok. Kalau tidak ada listrik, kami tidak bisa bekerja,” tuturnya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan kompensasi atas kerugian akibat pemadaman, Yuni mengaku tentu mengharapkannya meski menyadari hal tersebut tidak mudah diwujudkan.
“Kalau ditanya ingin ganti rugi, ya tentu ingin. Tetapi mau meminta bagaimana,” katanya.
Selain usaha laundry, dampak pemadaman listrik juga dirasakan pelaku usaha lainnya. Seorang fotografer di Semarang, Hafidz, mengaku aktivitas pekerja kreatif sangat bergantung pada pasokan listrik.
“Listrik bagi kami pekerja kreatif itu bagaikan oksigen. Kalau listrik mati, kami tidak bisa melakukan apa-apa,” ujarnya.
Penulis : M Kamal
Editor : Jaka N
