Beranda Headline Kisah Kepala SDN Purwoyoso 01 Semarang Menanti Murid Baru, SPMB 2026 Baru...

Kisah Kepala SDN Purwoyoso 01 Semarang Menanti Murid Baru, SPMB 2026 Baru Menerima 5 Pendaftar

Hingga memasuki masa perpanjangan pendaftaran, sekolah yang dipimpinnya baru menerima lima calon siswa baru, jauh di bawah kuota 28 peserta didik

Kepala SDN Purwoyoso 01 Kota Semarang
Ilustrasi Kepala SDN Purwoyoso 01 Kota Semarang, Hajar Riatiani di tengah penerimaan siswa baru SPMB Kota Semarang 2026. (Foto: AI)

SEMARANG, Jatengnews.id – Harapan Kepala SDN Purwoyoso 01 Kota Semarang, Hajar Riatiani, untuk memenuhi satu rombongan belajar (rombel) pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 belum terwujud.

Hingga memasuki masa perpanjangan pendaftaran, sekolah yang dipimpinnya baru menerima lima calon siswa baru, jauh di bawah kuota 28 peserta didik.

Jumlah tersebut bahkan tidak bertambah sejak gelombang lanjutan SPMB dibuka pada 17 Juni 2026. Kondisi itu membuat pihak sekolah terus berharap masih ada tambahan pendaftar sebelum proses penerimaan siswa baru berakhir.

“Harapannya tentu satu rombel bisa terisi penuh, sekitar 28 siswa. Dua tahun lalu kami masih bisa memenuhi kuota. Tahun lalu turun menjadi 11 siswa, sedangkan tahun ini baru lima anak yang mendaftar secara online,” kata Hajar saat ditemui Jatengnews.id, Kamis (25/6/2026).

Menurut Hajar, penurunan jumlah siswa baru bukan hanya dialami SDN Purwoyoso 01. Sejumlah sekolah dasar negeri di Kecamatan Ngaliyan juga menghadapi persoalan serupa.

Biasanya, sekolah yang dipimpinnya masih memperoleh tambahan peserta didik dari sekolah-sekolah sekitar yang kuotanya telah penuh. Namun pada tahun ini, kondisi tersebut tidak lagi terjadi karena sekolah-sekolah tetangga juga belum mampu memenuhi rombongan belajar yang dibuka.

“Biasanya kami mendapat limpahan siswa dari sekolah terdekat. Sekarang mereka juga kekurangan murid, sehingga kami tidak mendapatkan tambahan peserta didik,” ujarnya.

Hajar menilai salah satu penyebab minimnya pendaftar adalah lokasi sekolah yang berada tepat di tepi jalan raya dengan arus kendaraan cukup padat. Kondisi tersebut membuat sebagian orang tua lebih memilih sekolah yang berada di dalam kawasan permukiman karena dianggap lebih aman bagi anak-anak.

“Kemungkinan orang tua merasa sekolah yang berada di dalam perumahan lebih aman. Di sini anak-anak harus menyeberang jalan yang cukup ramai dilalui kendaraan besar,” jelasnya.

Selain itu, perubahan komposisi penduduk di sekitar sekolah juga menjadi tantangan tersendiri. Menurut Hajar, banyak keluarga muda yang sebelumnya tinggal di kawasan Purwoyoso kini memilih pindah ke perumahan baru di wilayah pinggiran Kota Semarang hingga Kabupaten Kendal.

Akibatnya, jumlah anak usia sekolah dasar di lingkungan sekitar SDN Purwoyoso 01 terus berkurang dari tahun ke tahun.

“Di sekitar sekolah sekarang lebih banyak warga yang sudah lanjut usia. Banyak keluarga muda pindah ke Kendal, Boja, maupun Podorejo karena membeli rumah di sana. Dampaknya, jumlah calon siswa di lingkungan sekitar juga semakin sedikit,” tuturnya.

Meski menghadapi minimnya jumlah peserta didik baru, Hajar memastikan fasilitas sekolah tetap memadai untuk mendukung proses pembelajaran. SDN Purwoyoso 01 memiliki enam ruang kelas, laboratorium komputer, perpustakaan, ruang UKS, musala, serta berbagai sarana pendukung lainnya yang masih dalam kondisi baik.

Saat ini, pihak sekolah masih menunggu arahan dari Dinas Pendidikan Kota Semarang terkait kebijakan bagi sekolah-sekolah yang belum memenuhi kuota siswa baru. Namun demikian, Hajar tetap optimistis jumlah peserta didik akan bertambah hingga akhir masa penerimaan.

“Kami tidak muluk-muluk. Kalau nantinya bisa bertambah menjadi sekitar 15 siswa saja kami sudah sangat bersyukur. Yang penting sekolah tetap berjalan dan anak-anak bisa mendapatkan layanan pendidikan dengan baik,” pungkasnya. (01).

Penulis: Muhammad Kamal
Editor: Shodiqin

Exit mobile version