
SEMARANG, Jatengnews.id – Asosiasi Profesi Dakwah Islam Indonesia (APDII) kembali menggelar Webinar Lintas Negara seri ketujuh yang mengangkat tema “Dakwah, Peradaban Islam, dan Modern Lifestyle”.
Kegiatan yang berlangsung pada Senin (6/7/2026) ini menghadirkan akademisi dari Indonesia dan Mesir untuk membahas strategi dakwah yang relevan di tengah perkembangan zaman dan era digital.
Webinar dibuka oleh Ketua APDII, Prof. Dr. Abdullah, M.Si., dan diikuti oleh akademisi, mahasiswa, peneliti, serta praktisi dakwah dari berbagai wilayah. Dua narasumber yang hadir adalah M. Tegar Hafidh Alim, Lc., dari Al-Azhar University, Mesir, serta Dr. Ahmad Zaini, Lc., M.S.I., dosen UIN Sunan Kudus.
Dalam sambutannya, Prof. Abdullah menegaskan bahwa dakwah tidak cukup dimaknai sebagai penyampaian ceramah keagamaan semata. Menurutnya, dakwah harus mampu menjadi gerakan sosial yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Ia menjelaskan, dakwah dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari bil lisan (ceramah), bil kitabah (tulisan), hingga aksi sosial yang mendorong perubahan positif. Pendekatan tersebut dinilai penting agar dakwah mampu menjawab tantangan masyarakat modern sekaligus memperkuat pembangunan peradaban Islam.
“Tujuan dakwah bukan hanya membentuk kesalehan individu, tetapi juga menghadirkan kesalehan sosial melalui gerakan yang memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Prof. Abdullah juga menyampaikan bahwa webinar lintas negara merupakan agenda ilmiah APDII yang rutin dilaksanakan sebagai ruang bertukar gagasan antara akademisi dan praktisi dakwah dari berbagai negara.
Pada sesi pertama, M. Tegar Hafidh Alim memaparkan keterkaitan erat antara dakwah dan pembangunan peradaban Islam. Ia menilai dakwah merupakan proses membangun manusia dan masyarakat yang beradab, bukan sekadar mengajak seseorang menjadi pribadi yang lebih baik.
Menurutnya, konsep peradaban berakar dari nilai adab, yaitu kemampuan menempatkan sesuatu sesuai hakikatnya melalui tindakan yang benar berdasarkan ilmu dan hikmah. Untuk mencapai hal tersebut, seseorang harus memiliki pemahaman terhadap kebenaran serta mampu mengakui dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga memaparkan praktik dakwah di Mesir, khususnya melalui Al-Azhar, yang tidak hanya berfokus pada pendidikan calon dai, imam, dan khatib, tetapi juga menjalankan program kaderisasi ulama, beasiswa internasional, pelatihan fatwa, hingga program Riwaq.
Selain pendidikan, dakwah di Mesir juga diwujudkan melalui layanan sosial seperti konsultasi fatwa, bantuan kemanusiaan, dialog lintas agama, pengelolaan wakaf, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sementara itu, pada sesi kedua, Dr. Ahmad Zaini memaparkan hasil penelitiannya mengenai perkembangan dakwah di media sosial. Ia menjelaskan bahwa platform digital kini menjadi ruang penting dalam membentuk identitas keagamaan, budaya hijrah, hingga gaya hidup Islami, terutama di kalangan Generasi Z dan masyarakat perkotaan.
Menurutnya, media sosial telah berkembang dari sekadar sarana komunikasi menjadi media belajar agama dan ruang berbagi pengalaman keislaman.
“Hasil penelitian menunjukkan media sosial menjadi salah satu sumber utama Generasi Z dalam memperoleh informasi, termasuk pengetahuan keagamaan,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, APDII menegaskan pentingnya kolaborasi antara ulama, akademisi, dan praktisi dakwah dalam menyusun strategi dakwah yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan sosial.
Dakwah diharapkan mampu melampaui pendekatan konvensional dengan menghadirkan gerakan yang memperkuat nilai-nilai peradaban Islam sekaligus menjawab dinamika kehidupan modern secara bijaksana.
Penulis : Alif Nazzala Rizqi
Editor : Jaka Nuswantara