SEMARANG, Jatengnews.id – Kehadiran Program Sekolah Rakyat (SR) di tengah kebijakan efisiensi anggaran pendidikan memunculkan beragam pandangan. Sejumlah akademisi menilai program tersebut berpotensi menambah tantangan bagi sekolah dasar (SD) negeri yang belakangan mulai kehilangan peminat.
Namun, Dinas Pendidikan Kota Semarang menegaskan hingga kini belum menemukan adanya hubungan langsung antara keberadaan Sekolah Rakyat dengan menurunnya jumlah pendaftar SD negeri.
Pada tahun ajaran 2026/2027, Sekolah Rakyat Kota Semarang kuota siswa menerima 270 siswa, yang terdiri atas 90 siswa jenjang SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA. Di sisi lain, data Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) menunjukkan jumlah pendaftar SD negeri yang telah terverifikasi mencapai sekitar 13 ribu siswa, sedangkan daya tampung SD negeri di Kota Semarang mencapai 14.529 kursi. Dengan demikian, masih terdapat sekitar 1 ribu lebih kursi yang belum terisi.
Meski data tersebut menunjukkan masih adanya daya tampung yang kosong di SD negeri, Dinas Pendidikan Kota Semarang menilai kondisi tersebut belum bisa dikaitkan secara langsung dengan keberadaan Sekolah Rakyat. Pemerintah daerah masih terus melakukan evaluasi terhadap berbagai faktor yang memengaruhi penurunan jumlah peserta didik di sejumlah sekolah negeri.
Pengamat Pendidikan Universitas Negeri Semarang (Unnes), Edi Subkhan, menilai persoalan yang dihadapi sekolah negeri bukan semata-mata karena hadirnya Sekolah Rakyat. Menurutnya, masalah yang lebih mendasar justru terletak pada arah kebijakan anggaran pendidikan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada penguatan sekolah negeri.
Ia mengatakan, kebijakan efisiensi anggaran membuat ruang fiskal pemerintah semakin terbatas untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah negeri. Di sisi lain, pemerintah juga menjalankan berbagai program baru yang membutuhkan anggaran besar, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Sekolah Rakyat.
“Kalau anggaran mepet atau habis karena efisiensi untuk program MBG misalnya, ya akan makin merosot kualitas sekolah-sekolah negeri,” ujar Edi kepada Jatengnews.id belum lama ini.
Menurut Edi, pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan peningkatan kualitas sekolah negeri melalui perbaikan sarana dan prasarana, penguatan perpustakaan, peningkatan kompetensi guru, hingga perluasan program beasiswa bagi peserta didik.
“Bukan justru membuka sekolah baru dalam wujud Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, sekolah terintegrasi dan lainnya. Sekarang kalau mau bergerak tidak ada budget. Efisiensi untuk MBG dan lainnya mengambil sekitar 20 persen anggaran pendidikan. Ini persoalan sistemik,” tegasnya.
Lebih lanjut, Edi menjelaskan bahwa fenomena berkurangnya peminat SD negeri sebenarnya tidak terjadi secara merata di semua daerah. Pergeseran lebih banyak terjadi di wilayah dengan tingkat ekonomi masyarakat yang relatif baik, di mana orang tua memiliki lebih banyak pilihan sekolah.
Menurutnya, sebagian masyarakat kini lebih memilih sekolah swasta berbasis agama karena dinilai mampu memberikan pendidikan karakter yang lebih kuat. Sementara itu, kalangan menengah ke atas mulai tertarik pada sekolah yang menawarkan kurikulum internasional maupun berbagai program unggulan.
Sebaliknya, sekolah negeri dinilai menghadapi tantangan yang lebih besar untuk berinovasi. Berbagai regulasi dan prosedur birokrasi membuat pengembangan layanan pendidikan berjalan lebih lambat dibandingkan sekolah swasta yang memiliki fleksibilitas lebih tinggi.
Pendapat serupa disampaikan Pengamat Pendidikan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Ngasbun. Ia menyebut sedikitnya ada tiga faktor utama yang menyebabkan SD negeri mulai kehilangan peminat, yakni kualitas yang dinilai kalah bersaing dengan sekolah swasta, penurunan angka kelahiran, serta perubahan preferensi masyarakat dalam memilih sekolah.
Menurut Ngasbun, sekolah negeri tidak lagi cukup mengandalkan status sebagai sekolah milik pemerintah. Ke depan, sekolah negeri harus mampu menghadirkan inovasi, program unggulan, serta layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat agar tetap menjadi pilihan utama. (01).
Penulis: Muhammad Kamal
Editor: Shodiqin
