Beranda Ekonomi Amdatara Perkuat Sinergi Industri AMDK di Jateng-DIY, Fokus Industri Hijau dan Kelestarian...

Amdatara Perkuat Sinergi Industri AMDK di Jateng-DIY, Fokus Industri Hijau dan Kelestarian Lingkungan

Jawa Tengah dan DIY memiliki posisi penting dalam perkembangan industri AMDK nasional.

Perkumpulan Usaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara) resmi melantik Dewan Pengurus Daerah (DPD) untuk wilayah Jawa Tengah-DI Yogyakarta. Pelantikan digelar di gedung Gradhika Bakti Praja, Kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, pada Kamis (23/7/2026).
Perkumpulan Usaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara) resmi melantik Dewan Pengurus Daerah (DPD) untuk wilayah Jawa Tengah-DI Yogyakarta. Pelantikan digelar di gedung Gradhika Bakti Praja, Kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, pada Kamis (23/7/2026). (Foto : Dokumen)

SEMARANG, Jatengnews.id – Perkumpulan Usaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara) resmi mengukuhkan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Jawa Tengah–Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai langkah memperkuat kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan.

Pengukuhan berlangsung di Gedung Gradhika Bakti Praja, Kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Kamis (23/7/2026).

Pembentukan DPD tersebut menjadi upaya strategis untuk mempercepat pertumbuhan industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) sekaligus mendorong praktik usaha yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Ketua Umum Amdatara, Karyanto Wibowo, mengatakan Jawa Tengah dan DIY memiliki posisi penting dalam perkembangan industri AMDK nasional. Saat ini terdapat sekitar 131 perusahaan AMDK di wilayah tersebut atau sekitar 20 persen dari total pelaku industri di Indonesia.

Menurutnya, potensi ekonomi yang terus berkembang perlu diimbangi dengan penguatan sinergi bersama pemerintah daerah agar industri mampu tumbuh secara sehat sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“DPD ini dibentuk agar kolaborasi dengan pemerintah maupun para pemangku kepentingan semakin kuat sehingga industri AMDK dapat terus berkembang sekaligus memberikan kontribusi positif,” ujar Karyanto.

Namun, ia menegaskan bahwa tantangan industri AMDK saat ini tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Pelaku usaha juga dituntut berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan, terutama di kawasan sumber mata air.

Isu pengelolaan sumber daya air, penanganan sampah, hingga perubahan iklim menjadi perhatian utama yang harus dijawab melalui transformasi menuju industri hijau.

“Kami berharap industri AMDK mampu menjadi bagian dari solusi berbagai persoalan lingkungan melalui penerapan praktik usaha yang berkelanjutan,” katanya.

Sejumlah anggota Amdatara di Jawa Tengah dan DIY telah memulai berbagai langkah nyata. Salah satunya dengan memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap sebagai sumber energi alternatif untuk mendukung operasional yang lebih rendah emisi.

Ketua DPD Amdatara Jawa Tengah–DIY, Rama Zakaria, menjelaskan bahwa pihaknya juga memperluas kolaborasi dengan berbagai komunitas lingkungan.

Menurut Rama, kerja sama telah dilakukan dengan sejumlah bank sampah, termasuk di Kabupaten Wonogiri yang memiliki sekitar 20 ribu nasabah, serta menggandeng Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) dan berbagai pegiat konservasi sebagai mitra dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Kami ingin membangun ekosistem yang melibatkan banyak pihak agar pengelolaan lingkungan berjalan beriringan dengan pertumbuhan industri,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, July Emmylia, menilai transformasi menuju industri hijau menjadi kunci untuk menghapus stigma negatif terhadap sektor industri yang selama ini sering dikaitkan dengan kerusakan lingkungan.

Ia menegaskan bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan seharusnya tidak dipandang sebagai dua hal yang saling bertentangan.

“Dengan komitmen bersama menuju industri hijau, pembangunan ekonomi dapat berjalan selaras dengan upaya menjaga lingkungan,” kata Emmy.

Menurutnya, penerapan industri hijau pada sektor AMDK dapat dilakukan melalui efisiensi penggunaan air dan energi, pengurangan emisi karbon, serta pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT).

“Penerapan industri hijau bukan sekadar memenuhi regulasi, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan daya saing industri,” pungkasnya.

Penulis  : Alif Nazzala Rizqi

Editor     : Jaka Nuswantara

Exit mobile version