REMBANG, Jatengnews.id – Sebelum dikenal sebagai Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya sempat menapaki dunia politik di kampung halamannya, Kabupaten Rembang. Namun, kiprah tersebut tidak berlangsung lama karena ia memilih meninggalkan panggung politik lokal untuk memperdalam ilmu agama di Makkah.
Dalam buku Biografi KH Yahya Cholil Staquf: Derap Langkah dan Gagasan karya Septa Dinata (LKiS, 2022), diceritakan bahwa Gus Yahya mulai aktif di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia dipercaya menjabat sebagai Sekretaris DPC PPP Rembang.
Keputusan bergabung dengan PPP tidak lepas dari latar belakang keluarganya. Pada masa Orde Baru, NU memiliki hubungan erat dengan PPP sebagai dampak kebijakan fusi partai politik. Ayah Gus Yahya, KH Cholil Bisri, merupakan tokoh PPP yang pernah menjadi pengurus di tingkat kabupaten hingga pusat, sekaligus anggota DPRD dan DPR RI.
Menempati posisi sebagai sekretaris partai, Gus Yahya membawa pendekatan baru dalam pengelolaan organisasi. Berbekal ilmu sosial yang diperolehnya di bangku kuliah, ia memperkuat konsolidasi kepengurusan hingga tingkat ranting sehingga aktivitas partai di berbagai wilayah menjadi lebih hidup.
Dalam buku tersebut disebutkan, pengaruh Gus Yahya di internal PPP Rembang bahkan kerap melampaui ketua DPC. Hal itu tidak hanya karena kapasitas intelektualnya, tetapi juga karena posisinya sebagai putra ulama kharismatik yang memiliki pengaruh kuat di masyarakat.
Meski memiliki peluang besar berkarier di dunia politik, Gus Yahya memilih jalan berbeda. Ia memutuskan mengakhiri kiprahnya di PPP dan tidak melanjutkan karier politik praktis.
Perubahan arah hidup itu bermula pada 1996 saat menunaikan ibadah haji bersama ayahnya. Saat itu, Gus Dur sebenarnya telah memintanya datang ke Jakarta, namun KH Cholil Bisri memilih membawa putranya ke Tanah Suci.
Setelah ibadah haji selesai, sang ayah meminta Gus Yahya menetap di Makkah untuk memperdalam ilmu agama. Dalam buku tersebut, Gus Yahya mengenang pesan ayahnya, “Kamu tetap tinggal di sini, supaya minum air zamzam sebanyak-banyaknya.”
Permintaan tersebut menjadi titik awal perjalanan intelektual Gus Yahya di Timur Tengah. Selama sekitar 16 bulan ia belajar kepada sejumlah ulama di Makkah, pengalaman yang kemudian membentuk corak pemikiran dan kepemimpinannya hingga dipercaya memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Penulis : Jaka N
Editor : Alif Nazzala Rizqi
