
KARANGANYAR, Jatengnews.id – Ketua DPRD Jawa Tengah Sumanto mengingatkan pentingnya menjaga keberlangsungan sektor pertanian di tengah semakin berkurangnya regenerasi petani.
Ia menilai, kecenderungan generasi muda yang enggan bertani serta maraknya penjualan lahan warisan menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan dan masa depan ekonomi masyarakat pedesaan.
Pesan tersebut disampaikan Sumanto saat menggelar Temu Tani bersama ratusan petani dan tokoh masyarakat di Desa Puntukrejo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, belum lama ini.
Menurutnya, sawah bukan sekadar aset yang bisa diperjualbelikan, melainkan sumber penghidupan yang mampu memberikan manfaat berkelanjutan apabila dikelola dengan baik. Ia mengaku prihatin karena banyak anak muda memilih menjual tanah warisan dibanding meneruskan usaha pertanian keluarga.
“Regenerasi petani sekarang semakin berkurang. Banyak anak muda tidak lagi berminat bertani. Bahkan ketika menerima sawah atau tanah warisan, justru dijual. Memang hasil penjualannya besar, tetapi setelah tanah itu habis, sumber penghidupan mereka juga ikut hilang,” ujar Sumanto.
Ia menjelaskan, keuntungan besar dari penjualan lahan sering kali hanya bersifat sementara. Tanpa perencanaan yang matang, uang hasil penjualan aset produktif tersebut dapat habis dalam waktu singkat, sementara lahan yang menjadi sumber pendapatan jangka panjang sudah tidak lagi dimiliki.
Sebagai gambaran, Sumanto menyinggung kondisi masyarakat di sejumlah daerah yang menerima uang ganti rugi pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol. Tidak sedikit warga memperoleh dana hingga miliaran rupiah, namun sebagian besar digunakan untuk kebutuhan konsumtif.
“Banyak yang membeli mobil, membangun rumah besar, atau memenuhi kebutuhan konsumtif lainnya. Setelah uangnya habis, mereka tidak lagi memiliki lahan untuk digarap dan belum memiliki pekerjaan baru. Akhirnya kondisi ekonominya justru lebih sulit,” katanya.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar mempertimbangkan dengan matang sebelum melepas tanah warisan yang masih produktif. Menurutnya, mempertahankan lahan pertanian merupakan investasi jangka panjang yang mampu menopang kesejahteraan keluarga sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah.
Sumanto juga mendorong pemerintah untuk terus meningkatkan perhatian terhadap sektor pertanian melalui berbagai program yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Menurutnya, jika bertani mampu memberikan penghasilan yang layak, minat generasi muda untuk terjun ke sektor tersebut akan tumbuh dengan sendirinya.
“Petani adalah profesi yang sangat mulia karena menghasilkan pangan bagi masyarakat. Kita membutuhkan generasi muda yang mau melanjutkan perjuangan para petani agar lahan pertanian tetap produktif dan ketahanan pangan tetap terjaga,” tegasnya.
Melalui kegiatan Temu Tani itu, Sumanto berharap masyarakat semakin menyadari bahwa sawah dan lahan pertanian bukan hanya warisan keluarga, tetapi juga modal pembangunan yang harus dijaga.
Menurutnya, mempertahankan lahan produktif berarti menjaga sumber kehidupan, membuka peluang ekonomi bagi generasi mendatang, sekaligus memastikan sektor pertanian tetap menjadi penyangga kesejahteraan masyarakat.
Penulis : Alif Nazzala Rizqi
Editor : Jaka Nuswantara