
Kendal, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT ke-22 Posko 174 UIN Walisongo Semarang berkolaborasi dengan SDN 01 Tamangede, SDN 02 Tamangede, dan MI NU 05 Tamangede di Desa Tamangede, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal, Senin (27/7/2026).
Selain mendukung proses belajar mengajar, kolaborasi ini juga mengangkat persoalan pendidikan inklusif yang masih menjadi tantangan di sekolah dasar reguler.
Program pendampingan mengajar tersebut bertujuan meningkatkan motivasi belajar siswa melalui metode pembelajaran interaktif, sekaligus membantu guru dalam menciptakan suasana belajar yang lebih kreatif dan menyenangkan.
Selama kegiatan, mahasiswa KKN mengajar berbagai mata pelajaran umum dan keagamaan, seperti Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pendidikan Agama Islam, hingga Tahfidz.
Pembelajaran dikemas dengan metode fun learning, permainan edukatif, ice breaking, dan media visual agar siswa lebih aktif mengikuti pelajaran.
Selain mendampingi proses belajar di kelas, mahasiswa juga membuka bimbingan belajar bagi siswa yang membutuhkan pendampingan tambahan. Program tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus menanamkan nilai kedisiplinan, karakter, dan budaya literasi kepada peserta didik.
Di sela kegiatan, mahasiswa KKN berdiskusi dengan pihak sekolah mengenai implementasi pendidikan inklusif di sekolah reguler. Kepala SDN 02 Tamangede, Muhammad Muntoyib, S.Pd., menilai masih terdapat kesenjangan antara regulasi dan kondisi di lapangan.
“Di sekolah SLB ada batas kuotanya, sedangkan di sekolah negeri tidak boleh menolak siswa luar biasa,” ujarnya.
Menurutnya, keterbatasan daya tampung di Sekolah Luar Biasa (SLB) membuat sebagian anak berkebutuhan khusus akhirnya bersekolah di SD reguler. Kondisi tersebut menjadi tantangan karena tidak semua sekolah memiliki tenaga pendidik maupun fasilitas yang memadai untuk memberikan layanan pendidikan yang sesuai.
Menanggapi kondisi tersebut, mahasiswa KKN menyesuaikan metode pendampingan belajar dengan kebutuhan siswa di kelas, termasuk memberikan perhatian lebih terhadap peserta didik yang memerlukan dukungan khusus agar proses belajar berlangsung lebih inklusif.
Koordinator Desa KKN MIT ke-22 Posko 174, M. Robith Qolbaini Wibisono, mengatakan program ini merupakan bentuk pengabdian mahasiswa dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan di Desa Tamangede.
“Pendampingan mengajar ini bertujuan membantu proses belajar mengajar, meningkatkan motivasi belajar anak-anak, serta menanamkan nilai-nilai positif agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan berakhlak mulia,” katanya.
Melalui kolaborasi lintas sekolah ini, mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo berharap dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus menghadirkan ruang belajar yang lebih ramah, inklusif, dan berpihak kepada seluruh peserta didik.
Penulis: Tim KKN MIT-22 Posko 174 UIN Walisongo Semarang.
Editor: R. D. Pramesti