Beranda Daerah Dari Menimbang Sampah hingga Tumbuhkan Kesadaran, KKN UIN Walisongo Belajar di Bank...

Dari Menimbang Sampah hingga Tumbuhkan Kesadaran, KKN UIN Walisongo Belajar di Bank Sampah di Jogoloyo

Bank Sampah RW 4 Desa Jogoloyo yang telah memiliki sekitar 80 anggota menjadi sarana belajar mahasiswa KKN tentang pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus upaya meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

kkn uin ws pemilahan sampah
Mahasiswa KKN MIT ke-22 Posko 108 UIN Walisongo Semarang memilah sampah bersama warga dalam kegiatan Bank Sampah RW 4 di Desa Jogoloyo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, Minggu (26/7/2026) (Foto: Dok KKN).

Demak, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT ke-22 Posko 108 UIN Walisongo Semarang mengikuti kegiatan penimbangan sampah di Bank Sampah RW 4, Desa Jogoloyo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, Minggu (26/7/2026).

Kegiatan ini menjadi sarana belajar langsung mengenai pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus mendukung gerakan pelestarian lingkungan.

Selama kegiatan, mahasiswa membantu proses penimbangan, pencatatan, dan pemilahan sampah yang telah dibawa warga dari rumah masing-masing.

Kegiatan berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 10.00 WIB dengan melibatkan puluhan anggota Bank Sampah RW 4.

Ketua Bank Sampah RW 4, Khirotun, menjelaskan bahwa bank sampah yang berdiri sejak Oktober 2020 tersebut kini memiliki sekitar 80 anggota yang berasal dari RW 4 dan RW 6.

Penimbangan dilakukan setiap bulan, sementara hasil penjualan sampah dikembalikan kepada anggota setelah dipotong 5 persen untuk biaya operasional.

Penasihat Bank Sampah RW 4, Sri, mengatakan hampir seluruh RW di Desa Jogoloyo telah memiliki bank sampah.

Namun, menurutnya, pengelolaan di RW 4 menjadi salah satu yang paling berkembang karena didukung administrasi yang tertata serta tingginya partisipasi masyarakat.

“Sebenarnya di Desa Jogoloyo sudah memiliki bank sampah sendiri di tiap RW, kecuali RW 6. Dan di RW 4 ini pengelolaan bank sampah yang paling bagus menurut saya,” ujarnya.

Ia menambahkan, kesadaran warga untuk memilah sampah dari rumah juga memberikan manfaat ekonomi bagi anggota.

“Di sini, minimal Rp400.000 sekali tukar,” katanya.

Sekretaris Bank Sampah RW 4, Hidayatus Zahra atau yang akrab disapa Bu Ida, mengenang perjuangan pada awal pembentukan bank sampah yang hanya diikuti sekitar 10 orang.

“Ngene yo angel, Mbak. Awale cuma 10 orang dan kita yang ambil sampahnya,” kenangnya.

Menurutnya, konsistensi pengurus membuat jumlah anggota terus bertambah dan pengelolaan semakin baik. Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa maupun masyarakat di daerah lain.

Mahasiswa KKN MIT-22 Posko 108 yang tergabung dalam Divisi Kesehatan dan Lingkungan (Kesling) juga mengaku memperoleh pengalaman berharga dari kegiatan tersebut. Salah satunya, M. Ikhsan Ali, mengatakan keterlibatan mahasiswa merupakan bentuk dukungan terhadap gerakan peduli lingkungan yang telah dibangun masyarakat.

“Di sini kami turut serta membantu masyarakat untuk memilah dan menimbang,” ujarnya.

Ia berharap kesadaran masyarakat dalam memilah sampah terus meningkat sehingga keberlangsungan Bank Sampah RW 4 dapat terjaga.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN MIT-22 UIN Walisongo tidak hanya membantu proses penimbangan sampah, tetapi juga belajar bahwa perubahan perilaku masyarakat terhadap lingkungan membutuhkan komitmen, kerja sama, dan konsistensi dalam jangka panjang

Penulis: Tim Mahasiswa KKN
Editor: R. D. Pramesti

Exit mobile version