Beranda Pariwisata Kolaborasi Jadi Kunci, DPRD Jateng Dorong Percepatan 1.000 Desa Wisata

Kolaborasi Jadi Kunci, DPRD Jateng Dorong Percepatan 1.000 Desa Wisata

Komitmen tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Dialog Parlemen bertema "Berkolaborasi Menyukseskan 1.000 Desa Wisata di Jateng"

Sri Hartini dalam acara Dialog Parlemen: Berkolaborasi Menyukseskan 1.000 Desa Wisata di Jateng di Pinusia Park, Kalianyar, Kalirejo, Ungaran, Kabupaten Semarang
Sri Hartini dalam acara Dialog Parlemen: Berkolaborasi Menyukseskan 1.000 Desa Wisata di Jateng di Pinusia Park, Kalianyar, Kalirejo, Ungaran, Kabupaten Semarang, Selasa (29/7/2026). (Foto: dok/humas)

KABUPATEN SEMARANG, Jatengnews.id – Target Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk menghadirkan 1.000 desa wisata baru hingga 2029 dinilai hanya dapat terwujud melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat desa.

Komitmen tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Dialog Parlemen bertema “Berkolaborasi Menyukseskan 1.000 Desa Wisata di Jateng” yang digelar DPRD Provinsi Jawa Tengah di Pinusia Park, Kalianyar, Kalirejo, Ungaran, Kabupaten Semarang, Selasa (29/7/2026).

Dialog menghadirkan perwakilan legislatif, pemerintah provinsi, hingga akademisi untuk membahas strategi mempercepat pengembangan desa wisata yang tidak hanya bertambah jumlahnya, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Ketua Komisi B DPRD Jawa Tengah Sri Hartini mengatakan desa wisata harus dibangun dengan konsep yang berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan desa wisata tidak diukur dari banyaknya destinasi yang terbentuk, tetapi dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan warga, dan menggerakkan ekonomi lokal.

“Desa wisata harus dikelola secara profesional. Karena itu, diperlukan sinergi semua pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, pelaku usaha, hingga masyarakat agar pengembangannya berjalan optimal,” ujarnya.

Sri Hartini juga menilai generasi muda, khususnya Generasi Z, memiliki peran besar dalam memperkenalkan potensi desa wisata melalui media digital. Meski demikian, masyarakat desa tetap harus menjadi pelaku utama karena memahami budaya, potensi, dan karakter wilayahnya.

Sementara itu, Instruktur Ahli Muda Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah Yeni Puspitasari mengatakan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan desa wisata.

Pemerintah, kata dia, terus memberikan pelatihan kepada pelaku wisata, mulai dari pelayanan kepada wisatawan, pengelolaan kebersihan destinasi, hingga sertifikasi kompetensi.

“Pelayanan yang baik akan memberikan pengalaman positif bagi wisatawan dan mendorong mereka untuk kembali berkunjung,” jelasnya.

Akademisi STIEPARI Semarang Gana Wuntu menambahkan setiap desa wisata perlu memiliki identitas dan daya tarik yang khas agar mampu bersaing dengan destinasi lainnya.

Selain mengangkat potensi alam, budaya, dan kuliner, menurutnya desa wisata juga perlu menghadirkan pengalaman yang melibatkan wisatawan secara langsung.

Ia mencontohkan wisata edukasi pembuatan tempe yang memungkinkan pengunjung belajar bersama perajin lokal. Konsep seperti itu dinilai mampu memberikan pengalaman berbeda sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

Di sisi lain, Pengampu Bidang Pariwisata Disporapar Jawa Tengah Riyadi Kurniawan mengungkapkan saat ini terdapat 889 desa wisata di Jawa Tengah.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan jumlah tersebut bertambah menjadi 1.889 desa wisata pada 2029 melalui pembentukan 1.000 desa wisata baru.

Menurut Riyadi, setiap desa harus memiliki unique selling proposition (USP) atau keunggulan yang membedakannya dari destinasi lain sehingga memiliki daya saing yang kuat.

Untuk mendukung promosi digital, Pemprov Jawa Tengah juga menargetkan melatih 1.000 konten kreator hingga 2029. Saat ini, sekitar 300 konten kreator telah mengikuti program tersebut.

Ia juga mengungkapkan bahwa pada 2026 terdapat dua desa wisata di Jawa Tengah yang berhasil masuk kategori Best Tourism Village tingkat dunia, salah satunya Desa Candirejo di Kabupaten Magelang.

Melalui Dialog Parlemen tersebut, DPRD Jawa Tengah berharap kolaborasi lintas sektor semakin kuat sehingga pengembangan desa wisata tidak hanya mengejar target jumlah, tetapi juga mampu menciptakan destinasi yang berdaya saing, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menjadi motor penggerak ekonomi daerah. (ADV-01).

Penulis: Shodiqin
Editor: Jaka Nuswantara

Exit mobile version