
Demak, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 129 mengikuti Workshop Training Pengelolaan Sampah Terpadu Skala Desa Program Biosiklus di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Desa Kebonsari, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Rabu (29/7/2026).
Workshop yang diselenggarakan melalui kolaborasiGretapala (Gerakan Recycle Tangguh Peduli Alam) dan Karang Taruna Desa Kebonsari tersebut juga diikuti rombongan Pemerintah Desa Kedungwaru Kidul sebagai bagian dari studi tiru pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas peserta dalam mengelola sampah secara terpadu, mulai dari proses pemilahan hingga pengolahan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, seperti pupuk kompos dan media tanam.
Ketua Karang Taruna Desa Kebonsari, Wawan, menjelaskan bahwa keberhasilan TPST Kebonsari merupakan hasil proses panjang yang dimulai sejak 2021 melalui edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.
“Keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga komitmen masyarakat dalam membangun budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Pemerintah Desa Kedungwaru Kidul, Jejeng Samiyanto, mengungkapkan bahwa desanya telah memiliki mesin pengolahan sampah, namun belum dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan pengetahuan mengenai sistem pengelolaannya.
“Kami sudah memiliki mesin pengolahan sampah, tetapi belum memahami cara mengelolanya secara optimal. Karena itu kami datang ke TPST Kebonsari untuk belajar agar nantinya dapat diterapkan di desa kami,”jelas Jejeng.
Co-Founder Gretapala, Heri, mengatakan TPST Kebonsari tidak hanya berfokus pada pengurangan volume sampah, tetapi juga mendorong pengelolaan sampah yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Harapannya, konsep ini dapat direplikasi oleh desa-desa lain sehingga pengelolaan sampah mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Koordinator Desa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Posko 129, Evan, mengapresiasi terselenggaranya workshop tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah desa, organisasi masyarakat, dan perguruan tinggi menjadi langkah strategis dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah.
“Harapan kami, masyarakat semakin sadar bahwa sampah bukan hanya limbah yang harus dibuang, tetapi dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi,” ungkap Evan.
Melalui workshop ini, TPST Kebonsari diharapkan terus menjadi pusat edukasi dan percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat, sekaligus menginspirasi desa-desa lain untuk menerapkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Penulis: Tim Mahasiswa KKN
Editor: R. D, Pramesti