
Demak, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Inisiatif Terprogram (MIT) ke-22 Posko 141 UIN Walisongo Semarang menggelar sosialisasi pencegahan bullying di SDN 3 Mijen, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, Jumat (31/7/2026).
Sebanyak 80 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan edukasi yang dikemas secara interaktif melalui presentasi, bernyanyi bersama, permainan, hingga sesi refleksi menulis pengalaman.
Program ini bertujuan menanamkan nilai empati, kepedulian, serta membangun lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari perundungan sejak usia dini.
Edukasi Bullying Dikemas Menarik
Berbeda dengan penyuluhan pada umumnya, mahasiswa KKN UIN Walisongo menyampaikan materi menggunakan media visual berupa slide presentasi yang disesuaikan dengan usia siswa. Materi kemudian dipadukan dengan lagu, permainan edukatif, dan sesi tanya jawab berhadiah sehingga suasana belajar menjadi lebih menyenangkan.
Dalam penyampaian materi, mahasiswa menjelaskan bahwa bullying merupakan perilaku menyakiti atau mengganggu orang lain secara berulang terhadap teman yang dianggap lebih lemah. Siswa dikenalkan dengan empat bentuk bullying yang sering terjadi di lingkungan sekolah, yaitu bullying fisik, verbal, sosial, dan siber (cyberbullying).
Selain mengenali jenis-jenis bullying, para siswa juga diajak memahami dampak yang dapat ditimbulkan, mulai dari cedera fisik, gangguan psikologis seperti rasa takut dan cemas, hingga menurunnya kepercayaan diri, prestasi belajar, serta kemampuan bersosialisasi.
Mahasiswa KKN juga memberikan langkah-langkah sederhana untuk mencegah bullying, seperti menghindari situasi yang berisiko, tidak membawa barang berharga secara berlebihan, serta berani melapor kepada guru atau orang tua apabila mengalami maupun menyaksikan tindakan perundungan.
Refleksi Emosional Bangun Empati Siswa
Salah satu sesi yang paling berkesan adalah kegiatan refleksi. Dalam suasana yang tenang, siswa diminta menuliskan pengalaman pribadi terkait bullying pada secarik kertas.
Melalui cara tersebut, mahasiswa ingin memberi ruang kepada anak-anak untuk mengungkapkan perasaan sekaligus memahami dampak emosional yang ditimbulkan akibat perundungan.
Koordinator Desa (Kordes) KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Desa Mijen, Muhammad Irfan, mengatakan pendekatan emosional dipilih agar pesan yang disampaikan tidak hanya dipahami, tetapi juga membentuk karakter siswa.
“Kami menyadari bahwa mencegah bullying tidak cukup hanya dengan melarang. Lewat sesi refleksi dan menulis pengalaman, kami mengajak adik-adik memahami luka emosional yang muncul akibat konflik dengan teman. Harapannya, tumbuh rasa saling menghargai, empati, dan kepedulian di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Menurut Irfan, pesan utama yang ingin ditanamkan adalah setiap anak berhak merasa aman dan bahagia saat belajar di sekolah. Karena itu, siswa diajak menjadi teman yang saling menghargai, tidak melakukan bullying, serta berani membantu apabila melihat temannya menjadi korban.
Sekolah Apresiasi Program KKN UIN Walisongo
Kepala SDN 3 Mijen, Suhartini, mengapresiasi kegiatan yang dinilai mampu menyampaikan edukasi dengan pendekatan yang sesuai dengan dunia anak.
“Pendekatan yang dilakukan mahasiswa KKN UIN Walisongo sangat baik karena mampu mendorong anak-anak berani jujur dan bercerita. Menuliskan pengalaman merupakan bentuk keberanian yang patut diapresiasi,” katanya.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN UIN Walisongo dan pihak sekolah, diharapkan budaya saling menghormati, peduli, dan berani mencegah bullying dapat terus tumbuh di lingkungan SDN 3 Mijen.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun sekolah yang ramah anak dengan semangat “Stop Bullying, Mulai dari Kita.”
Penulis: Tim Mahasiswa KKN UIN Walisongo
Editor: R. D. Pramesti