
Kendal, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 164 turut berpartisipasi dalam pelaksanaan Tradisi Merti Dusun di Dukuh Boto Tumpang, Desa Karangsari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, Kamis-Jumat (23–24/07/2026).
Kegiatan tahunan tersebut menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas hasil bumi sekaligus upaya melestarikan tradisi dan mempererat kebersamaan warga.
Merti Dusun telah menjadi tradisi turun-temurun yang rutin diselenggarakan masyarakat Dukuh Boto Tumpang.
Selain sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen, tradisi ini juga menjadi sarana doa bersama agar masyarakat senantiasa memperoleh kesehatan, keselamatan, keberkahan, serta hasil pertanian yang lebih baik pada musim berikutnya.
Mahasiswa KKN UIN Walisongo tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap tahapan kegiatan.
Pada Kamis (23/7/2026), mahasiswa membantu proses penyembelihan seekor kambing di kawasan Candi Boto Tumpang sebagai bagian dari rangkaian prosesi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dalam prosesi tersebut, kepala kambing ditempatkan di Candi Boto Tumpang sebagai bagian dari tradisi masyarakat setempat yang dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sesuai adat yang masih dijaga hingga kini.
Setelah prosesi doa selesai, kepala kambing diambil oleh warga, sementara daging kambing dimasak secara gotong royong oleh masyarakat bersama mahasiswa KKN untuk kemudian dibagikan kepada warga Dukuh Boto Tumpang.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan pada Jumat (24/7/2026) dengan kirab budaya menuju Candi Boto Tumpang. Kirab diikuti oleh masyarakat, tokoh agama, Kepala Dukuh, serta mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 164.
Suasana khidmat dan penuh semangat kebersamaan mewarnai jalannya kirab sebagai simbol rasa syukur dan harapan akan kehidupan yang lebih sejahtera.
Setelah kirab, masyarakat menikmati pertunjukan wayang sebagai hiburan sekaligus upaya melestarikan kesenian tradisional Jawa.
Puncak acara ditandai dengan tradisi royokan gunungan hasil bumi, yakni prosesi memperebutkan gunungan berisi aneka hasil panen dan jajanan pasar yang telah didoakan.
Tradisi tersebut berlangsung meriah dan menjadi daya tarik utama dalam perayaan Merti Dusun.
Ketua KKN MIT-22 Posko 164, Muhammad Syukron Arrosyid, mengatakan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam Merti Dusun merupakan bagian dari implementasi pengabdian kepada masyarakat sekaligus kesempatan mempelajari nilai-nilai budaya lokal.
“Tradisi Merti Dusun di Dukuh Boto Tumpang mengajarkan kami arti kerja sama, rasa syukur, dan pentingnya menjaga persaudaraan. Kami merasa bersyukur dapat terlibat langsung dalam setiap rangkaian kegiatan serta belajar dari masyarakat yang masih menjaga tradisi secara turun-temurun,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan wawasan baru mengenai kehidupan sosial masyarakat desa sekaligus memperkuat kepedulian mahasiswa terhadap pelestarian budaya Indonesia.
Melalui keikutsertaan dalam Tradisi Merti Dusun, mahasiswa KKN UIN Walisongo tidak hanya menjalankan program pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga mendukung pelestarian warisan budaya lokal.
Sinergi antara masyarakat, tokoh adat, pemerintah desa, dan mahasiswa diharapkan mampu menjaga keberlangsungan tradisi Merti Dusun sebagai identitas budaya yang terus diwariskan kepada generasi mendatang.
Penulis: Tim Mahasiswa KKN UIN Walisongo
Editor: R. D. Pramesti