
PEKALONGAN, Jatengnews.id – Penggunaan pompa air tenaga surya (PATS) mulai membantu petani menekan biaya pengairan sawah di Jawa Tengah. Teknologi tersebut membuat penggunaan bahan bakar solar untuk mengoperasikan pompa diesel berkurang secara signifikan.
Salah satu penerapannya berada di Desa Tengengwetan, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan. Pompa tenaga surya yang dipasang melalui program Benteng Pangan Jateng itu dimanfaatkan sekitar 30 petani untuk mengairi hampir 20 hektare lahan pertanian.
Perwakilan Gapoktan Desa Tengengwetan, Kirom, mengatakan penggunaan PATS membuat kebutuhan solar untuk pengairan sawah berkurang.
Sebelum menggunakan pompa tenaga surya, petani membutuhkan sekitar 30 liter solar untuk mengairi lahan selama satu hari satu malam. Kini, konsumsi solar dapat ditekan menjadi sekitar 15 liter karena pompa tenaga surya digunakan pada siang hari.
“Pompa dengan BBM solar hanya untuk malam saja, siangnya memakai tenaga surya. Jadi lebih irit untuk pengeluaran, bisa menekan ongkos produksi minimal seperempat,” kata Kirom.
Menurut Kirom, penghematan tersebut cukup membantu petani karena biaya pengairan menjadi salah satu komponen dalam ongkos produksi pertanian.
Selain mengurangi pengeluaran, keberadaan PATS juga membuat petani tidak sepenuhnya bergantung pada bahan bakar fosil untuk mendapatkan pasokan air ke lahan.
PATS Jangkau 50 Hektare Lahan Pertanian
Program pompa tenaga surya tidak hanya diterapkan di Kabupaten Pekalongan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah memasang PATS di tiga titik, yakni Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Brebes, dan Kabupaten Cilacap.
Ketiga pompa tersebut secara keseluruhan mampu mengairi sekitar 50 hektare lahan pertanian.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, pemanfaatan energi surya untuk pertanian menjadi bagian dari transformasi energi sekaligus upaya menekan biaya produksi petani.
“Program Benteng Pangan Jateng yang kita lakukan hari ini adalah energi baru terbarukan, termasuk di dalamnya adalah solar panel untuk pertanian, khususnya pompa air,” kata Ahmad Luthfi saat meninjau penerapan PATS di Desa Tengengwetan, Kabupaten Pekalongan, Senin (10/8/2026).
Luthfi mengatakan, penerapan PATS di tiga daerah tersebut nantinya dapat menjadi contoh pemanfaatan energi baru terbarukan untuk mendukung sektor pertanian.
“Tiga titik pompa ini total mengairi sekitar 50 hektare lahan pertanian, untuk yang di Pekalongan ini bisa mengairi hampir 20 hektare lahan,” ujarnya didampingi Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah Agus Sugiharto.
Menurut Luthfi, konsep penggunaan energi surya tersebut akan dikembangkan ke berbagai daerah. Pemanfaatannya juga tidak hanya untuk pertanian, tetapi dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat di kawasan kampung nelayan, UMKM, hingga sektor lainnya.
“Ini akan kita kembangkan, nanti akan kita sosialisasikan lalu infrastruktur disiapkan,” katanya.
Pompa Tenaga Surya Bantu Petani Brebes Hadapi Air Rob
Manfaat PATS juga dirasakan petani di Desa Banjaranyar, Kabupaten Brebes. Teknologi tersebut menjadi alternatif pengairan di tengah persoalan ketersediaan solar dan air irigasi.
Perwakilan Gapoktan Tani Makmur, Gilang, mengatakan petani di wilayahnya selama ini mengandalkan irigasi dari wilayah selatan. Namun, ketika musim kemarau, air rob dapat masuk ke saluran irigasi dan membuat air menjadi asin.
Dengan PATS yang terintegrasi dengan sumur bor, petani mendapatkan sumber air yang lebih layak untuk mengairi sawah.
“Kondisi masalah pengairan kita mengandalkan irigasi dari Selatan. Kalau musim kemarau kita dilanda air rob yang masuk irigasi. Adanya pompa tenaga surya ini kita pakai sumur bor, akhirnya air tidak asin dan bisa menanam lagi,” kata Gilang.
Keberadaan pompa tersebut juga membuat petani memiliki keleluasaan dalam menentukan waktu tanam.
“Petani kita bisa lebih maju masa tanam, bisa kita rekayasa sendiri musim tanamnya,” ujarnya.
Energi Surya Jadi Bagian dari Ketahanan Pangan
Ahmad Luthfi menambahkan, penggunaan energi baru terbarukan di Jawa Tengah tidak hanya diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Teknologi tersebut juga diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus mendukung penguatan ketahanan pangan.
“Pompa tenaga surya ini juga sudah digunakan di Sayung untuk mengatasi banjir,” ujarnya.
Pemprov Jateng menargetkan penerapan teknologi pompa tenaga surya dapat diperluas ke sejumlah daerah. Dengan biaya operasional yang lebih efisien, energi matahari diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi beban biaya produksi petani sekaligus menjaga produktivitas lahan pertanian.
Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Jawa Tengah mendorong pemanfaatan energi terbarukan untuk memperkuat sektor pertanian dan membangun ekonomi hijau.
Penulis : Jaka N
Editor : Shodiqin