Beranda Daerah Mahasiswa KKN-R Undip Tanamkan Konsep Omoiyari untuk Cegah Bullying di MI Desa...

Mahasiswa KKN-R Undip Tanamkan Konsep Omoiyari untuk Cegah Bullying di MI Desa Bercak Boyolali

Melalui konsep Omoiyari, siswa diajak memahami bahwa ketika melihat teman diejek atau menjadi korban bullying, mereka tidak seharusnya ikut tertawa atau mengikuti perilaku tersebut.

Sosialisasi membangun pemahaman siswa – siswi kelas 4, 5, dan 6 MI Desa Becak tentang Filosofi Omoiyari yang dipresentasikan oleh mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang.
Sosialisasi membangun pemahaman siswa – siswi kelas 4, 5, dan 6 MI Desa Becak tentang Filosofi Omoiyari yang dipresentasikan oleh mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang. (Foto : Dok KKN)

BOYOLALI, Jatengnews.id – Upaya mencegah perundungan atau bullying di lingkungan sekolah terus dilakukan melalui berbagai pendekatan edukatif.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Responsif (KKN-R) Universitas Diponegoro (Undip) Desa Bercak, Kecamatan Wonosamodro, Kabupaten Boyolali, turut mengambil peran dengan mengenalkan konsep empati kepada siswa melalui filosofi Jepang Omoiyari.

Program sosial kemasyarakatan bertajuk “Membantu Upaya Preventif Anti-Bullying pada Siswa MI melalui Penanaman Konsep Omoiyari” tersebut dilaksanakan di MI Desa Bercak, Dusun Bercak Lor, Desa Bercak, Kecamatan Wonosamodro, Kabupaten Boyolali.

Kegiatan menyasar siswa kelas 4, 5, dan 6. Program ini bertujuan menanamkan karakter empati dan kepedulian terhadap sesama sejak dini sebagai salah satu langkah preventif untuk mencegah munculnya perilaku perundungan di lingkungan sekolah.

Program tersebut berangkat dari keresahan para guru yang masih menemukan persoalan perundungan dalam skala kecil di kelas. Salah satu bentuk yang kerap terjadi adalah kebiasaan saling mengejek dengan membawa-bawa nama orang tua.

Meski sering dianggap sebagai candaan antarteman, kebiasaan tersebut berpotensi memberikan dampak negatif apabila terus dibiarkan. Ejekan yang dilakukan berulang dapat melukai perasaan dan menjadi pintu masuk munculnya perilaku perundungan yang lebih serius.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN-R memilih pendekatan yang dekat dengan pendidikan karakter melalui pengenalan filosofi Omoiyari dari Jepang. Konsep tersebut mengajarkan pentingnya empati, yakni kemampuan untuk memikirkan, memahami, serta menghargai perasaan orang lain.

Kegiatan edukasi berlangsung secara interaktif. Siswa tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai bullying, tetapi juga diajak berdiskusi dan menyampaikan pendapat mengenai perasaan mereka ketika menghadapi tindakan yang dapat menyakiti hati.

Kegiatan diawali dengan pemaparan oleh Vio yang menjelaskan bullying secara teoritis. Materi kemudian dilanjutkan dengan pengenalan konsep Omoiyari melalui analogi hati manusia yang diibaratkan seperti selembar kertas.

Mahasiswa mengajak siswa membayangkan bagaimana perasaan seseorang ketika terus-menerus menerima ejekan. Anak-anak juga diberikan pertanyaan mengenai apa yang mereka rasakan apabila nama orang tua mereka dijadikan bahan candaan oleh teman.

Untuk memperkuat pemahaman, mahasiswa menggunakan selembar kertas bersih yang kemudian diremas. Setelah kertas tersebut dibuka dan dirapikan kembali, tetap terlihat bekas lipatan dan kerutan.

Analogi tersebut menggambarkan bahwa hati seseorang yang terluka akibat perkataan atau tindakan perundungan juga dapat meninggalkan bekas. Meskipun pelaku telah meminta maaf, pengalaman tersebut belum tentu mudah dilupakan oleh korban.

Melalui konsep Omoiyari, siswa diajak memahami bahwa ketika melihat teman diejek atau menjadi korban bullying, mereka tidak seharusnya ikut tertawa atau mengikuti perilaku tersebut.

Sebaliknya, siswa didorong untuk menempatkan diri pada posisi korban, memahami perasaannya, serta berani membela atau mengingatkan teman yang melakukan tindakan kurang baik dengan cara yang santun.

Edukasi tersebut dikemas dalam diskusi dua arah sehingga siswa dapat terlibat secara langsung. Pemahaman siswa juga diuji melalui sesi pertanyaan dan jawaban yang dikemas dengan pemberian hadiah sehingga suasana kegiatan berlangsung lebih menyenangkan.

Tidak berhenti pada penyampaian materi, mahasiswa juga mengajak siswa melakukan praktik sederhana untuk memvisualisasikan nilai empati dan kepedulian.

Setiap siswa diberikan kertas dan alat gambar untuk membuat karakter pahlawan super sesuai imajinasi masing-masing. Karakter tersebut menjadi simbol sosok pelindung yang peduli terhadap sesama dan berani membantu teman yang menghadapi tindakan perundungan.

Setelah selesai, hasil gambar siswa dikumpulkan dan dirangkai menjadi mading kelas. Mading tersebut kemudian dipajang di kelas 4, 5, dan 6 sebagai media pengingat agar siswa senantiasa menjaga pertemanan yang sehat, saling menghargai, serta berani mencegah perundungan.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-R Desa Bercak berharap penanaman nilai empati melalui konsep Omoiyari dapat menjadi salah satu langkah sederhana dalam membangun karakter positif anak-anak sejak dini.

Selain memahami bahwa bullying merupakan perilaku yang dapat menyakiti orang lain, siswa diharapkan mampu menerapkan sikap peduli, menghargai perasaan teman, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.

Mahasiswa KKN-R Desa Bercak juga menyampaikan apresiasi kepada para guru MI Desa Bercak dan seluruh rekan KKN-R Desa Bercak yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan edukasi dapat terlaksana dengan lancar.

Kolaborasi antara mahasiswa, guru, dan siswa diharapkan dapat memperkuat upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga membentuk generasi muda yang memiliki empati, kepedulian, dan karakter positif.



Penulis   :  Tim Mahasiswa KKN

Editor     : Alif Nazzala Rizqi

Exit mobile version