Beranda Daerah Djumari Meninggal Usai Maghrib Saat Mengaji di Masjid Semarang, Ini Kesaksian Teman

Djumari Meninggal Usai Maghrib Saat Mengaji di Masjid Semarang, Ini Kesaksian Teman

Bagi Rosyidi, kepergian Djumari meninggalkan kehilangan bagi jamaah Masjid Nurul Huda.

Susana Masjid Nurul Huda, Jalan Wismasari, Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Waktu itu usai jemaah salat ashar pada Rabu (12/8/2026). (Foto: Kamal)
Susana Masjid Nurul Huda, Jalan Wismasari, Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Waktu itu usai jemaah salat ashar pada Rabu (12/8/2026). (Foto: Kamal)

SEMARANG, Jatengnews.id – Djumari bin Amin, 73 tahun, meninggal dunia saat mengikuti pengajian Al-Qur’an di Masjid Nurul Huda, Jalan Wismasari, Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (8/8/2026) malam.

Ia meninggal tidak lama setelah salat Magrib, ketika mengikuti pengajian rutin yang biasa digelar setiap Sabtu malam.

Rosyidi (75), teman sekaligus saksi mata, mengatakan Djumari merupakan salah satu jamaah yang dikenal aktif mengikuti kegiatan keagamaan di masjid tersebut.

“Setiap ada ngaji pasti ikut. Aktif orangnya,” kata Rosyidi saat ditemui usai  salat Ashar Rabu (12/8/2026).

Menurut dia, pengajian berlangsung setelah salat Magrib dan biasanya berlanjut hingga menjelang salat Isya. Pada malam itu, sekitar 12 orang mengikuti kegiatan tersebut.

Djumari, kata Rosyidi, baru saja menyelesaikan gilirannya membaca Al-Qur’an ketika kemudian tubuhnya terbaring kebelakang.

Jamaah yang berada di lokasi kemudian memberikan pertolongan. Namun, Djumari dinyatakan telah meninggal dunia. Seorang dokter juga dipanggil untuk memastikan kondisinya.

Bagi Rosyidi, kepergian Djumari meninggalkan kehilangan bagi jamaah Masjid Nurul Huda.

Djumari dikenal rutin menjalankan salat berjamaah dan mengikuti pengajian. Ia bahkan masih menggunakan sepeda motor listrik sendiri untuk datang ke masjid.

Rosyidi menggambarkan Djumari sebagai sosok yang pendiam, tetapi aktif dalam kegiatan keagamaan.

“Lebih banyak pendiam dia. Ya, sama-sama pensiunan. Jadi, orang ngaji hampir semua pensiunan,” katanya ia yang juga menjadi takmir atau pengurus masjid tersebut.

Djumari sendiri lahir pada 6 Juni 1950. Sebelum kondisi fisiknya menurun karena usia, ia disebut pernah aktif menjadi imam salat Magrib dan Isya.

Namun, keterbatasan fisik membuatnya tidak lagi menjalankan peran tersebut.

Pengajian Sabtu malam di Masjid Nurul Huda memang secara khusus diikuti jamaah laki-laki. Biasanya terdapat sekitar 12 hingga 15 orang yang hadir.

Sementara pengajian pada Selasa pagi diikuti jamaah laki-laki dan perempuan, dengan jumlah peserta bisa mencapai sekitar 50 orang.

Momen ketika Djumari mengalami kondisi tersebut kebetulan terekam CCTV kemudian diunggah oleh anaknya ke media sosial.

Video tersebut memperlihatkan suasana ketika Djumari sedang mengikuti kegiatan mengaji bersama jamaah lainnya di masjid.

Unggahan itu kemudian menarik perhatian warganet karena memperlihatkan seseorang yang meninggal ketika sedang mengikuti kegiatan keagamaan.

Bagi Rosyidi, cara Djumari menghabiskan waktu terakhirnya menjadi sesuatu yang membekas bagi jamaah.

Setelah kepergian Djumari, para jamaah masih menggelar tahlilan di rumahnya selama tujuh hari.

Rosyidi mengatakan dirinya dan jamaah lain merasa kehilangan.

Namun, di tengah kesedihan itu, ia juga mengaku muncul rasa iri dalam arti positif terhadap akhir kehidupan Djumari.

“Merasa kehilangan dan ngiri. Mudah-mudahan saya bisa seperti itu,” kata Rosyidi.

Ia menilai Djumari meninggal ketika sedang menjalankan aktivitas yang selama ini rutin dilakukannya: salat dan mengaji.

Rosyidi juga mengenang kondisi wajah Djumari saat jenazah hendak dimakamkan. Menurut dia, wajah Djumari terlihat ceria ketika kain kafannya dibuka.

“Kesannya memang tanda-tanda husnul khotimah itu jelas sekali,” ujarnya.

Djumari kemudian dimakamkan pada Minggu pagi, sehari setelah meninggal dunia.

Bagi jamaah Masjid Nurul Huda, kepergiannya bukan hanya kehilangan seorang teman mengaji. Ia meninggalkan kenangan tentang seorang lelaki lanjut usia yang tetap berusaha datang ke masjid dan mengikuti pengajian secara rutin hingga akhir hayatnya.

Penulis  : Muhammad Kamal

Editor     : Alif Nazzala Rizqi

Exit mobile version